15 February 2011

Situasi Politik dalam Film HOTEL RWANDA






Dalam pelajaran Pengantar Ilmu Politik, saya menonton sebuah film berjudul Hotel Rwanda. Film ini mengisahkan tentang pertumpahan darah di Afrika yang kini dikenal dengan nama Rwandan Genocide. Hal paling menarik disini adalah situasi Politik yang benar-benar kacau karena banyaknya konflik yang disimpan antara dua kubu yang menindas dan ditindas.

Rwanda adalah bekas jajahan Belgia, dan dua suku terbesar di Rwanda adalah Hutu dan Tutsi. Pemerintah kolonial Belgia dengan pintarnya mendiskreditkan suku mayoritas Hutu dan mengangkat orang-orang dari suku Tutsi sebagai pejabat setempat. setelah Belgia memberi kemerdekaan ke Rwanda, ketegangan semakin meningkat seiring kembalinya kekuasaan ke tangan Hutu yang masih menyimpan dendam terhadap suku Tutsi, karena selama Belgia masih menjajah Rwanda, suku Tutsi banyak yang merendahkan suku Hutu.

Hari itu Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana yang berasal dari suku Hutu menandatangani perjanjian perdamaian di bawah pengawasan United Nations Peace Keeping Operations di Hotel des Milles Colines, tempat Paul (sang tokoh utama) bekerja sebagai manajer. Tak ada yang menduga kalo keesokan harinya tersiar kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Presiden mereka dan juga Presiden Burundi yang berasal dari suku Hutu ditembak jatuh, dan kejadian ini nantinya berfungsi sebagai alasan ke Rwandan Genocide.

Setelah tewasnya kedua Presiden itu, orang2 Tutsi yang tinggal di sekitar rumah Paul (satu-satunya Hutu yang bisa mereka percaya), langsung bersembunyi di rumah Paul, termasuk di antara mereka adalah istri Paul, Tatiana yang berasal dari suku Tutsi, anak2 mereka dan keluarga sang istri.

Situasi politik yang dapat diamati adalah bagaimana ketika Belgia menguasai Rwanda, suku Tutsi dan Hutu tampak damai dan tidak ada konflik. Namun ketika Belgia memberikan kemerdekaan terhadap Rwanda, banyak pihak yang merasa berhak memiliki kekuasaan tersebut. Hutu yang selama masa penjajahan begitu direndahkan, kini merasa bahwa ketidakadilan yang selama ini mereka peroleh harus dimusnahkan. Kini suku Tutsi harus dimusnahkan demi kemerdekaan yang sempurna hanya bagi suku Hutu.



Tutsi dianggap jahat oleh suku Hutu, dalam hal ini, Interhamwe (Hutu) mau membunuh semua orang Tutsi. Presiden Juvenal Habyarimana dari suku Hutu tewas karena pesawatnya ditembak oleh pemberontak, padahal Beliau sudah menandatangani perjanjian damai. Setelah peristiwa ini, orang-orang Hutu menyerukan di radio, “They are cockroaches. They are murderers. Rwanda is our Hutu land. Let’s cut the tall trees!”. Kalimat ‘Mari potong pohon tinggi’ yang dimaksudkan disini adalah mari membunuh orang-orang yang berkuasa, yaitu orang-orang Tutsi.

Dalam kerjasama Politik, suku Hutu dipersenjatai oleh Prancis. Pihak Belgia yang melihat peristiwa ini berusaha menegakkan HAM dengan melindungi suku Tutsi yang ditindas. Melalui film ini dapat saya pelajari, bahwa dalam situasi Politik yang belum stabil, konflik kecil dapat memicu suatu pertumpahan darah yang besar. Oleh karena itu para Politisi harus dapat menyelesaikan segala seusatu dengan berjiwa besar dan kepala dingin.


Sumber Informasi: http://sherwintobing.com/2007/07/24/hotel-rwanda-review/

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, jangan malu-malu...