February 15, 2011

Apa saja Teori-Teori Sosiologi?


Ilmu Sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari kehidupan sosial manusia. Dalam ilmu komunikasi, sosiologi merupakan ilmu yang sangat penting, karena bagi saya mahasiswa ilmu Komunikasi, berjumpa dengan banyak orang dan melakukan interaksi sosial dengan mereka adalah hal yang akan sering saya paktekkan, oleh sebab itu sosiologi sangat perlu untuk saya pelajari dan mengerti.

Dalam Sosiologi komunikasi, ada banyak sekali teori-teori yang perlu saya mengerti. Melalui tugas Sosiologi Komunikasi ini, saya akan menjabarkan beberapa teori sosiologi yang dapat diaplikasikan dengan ilmu komunikasi.




1. Teori Sosiologis (pengantar mengenai seluruh teori sosiologi):
Sosiologi bertitik tolak pada pola-pola interaksi sosial. Namun, masalah interaksi sosial boleh dikatakan, merupakan hal yang seolah-olah tanpa batas, oleh karena menyangkut seluruh kehidupan sosial manusia.
Teori Sosiologis sebenarnya merupakan hasil kegiatan ilmiah untuk menyatukan fakta tertentu sedemikian rupa, sehingga lebih mudah untuk mempelajari keseluruhannya. Teori Sosiologis dibentuk dengan tujuan untuk:
1. Mengklasifikasikan dan mengorganisasikan gejala-gejala sedemikian rupa.
2. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya gejala-gejala tertentu pada masa lampau
3. Memahami mengapa dan bagaimana seharusnya gejala-gejala tertentu terjadi atau berlangsung.
Teori Sosiologis berorientasi pada pemberian perspektif berbeda terhadap perilaku nyata manusia. Ada banyak sekali teori sosiologi, dan besar kemungkinan suatu teori akan sangat sulit untuk dipahami, oleh karena itu dapat digunakan teori lain sebagai alternatifnya. Kadang-kadang bahkan terjadi konflik antar teori, walaupun gejala yang dipelajari sebenarnya sama. Oleh karena itu ada baiknya untuk mengetengahkan beberapa perspektif, yang merupakan pokok-pokok dari teori-teori tertentu yang dianggap mempunyai orientasi yang sama.
KESIMPULAN: Teori Sosiologis adalah teori yang sangat luas dan membahas mengenai interaksi antar manusia. Teori Sosiologi terdiri dari banyak teori, dan terkadang dibutuhkan teori lain sebagai alternatif untuk memahami sebuah teori karena beberapa teori memang sangat sulit untuk dipahami. Dalam teori sosiologis, beberapa teori juga dapat ditentang oleh teori lain, jadi harus diperhatikan perspektif untuk memahami suatu teori dengan teori lain yang memiliki orientasi yang sama.

2. Teori Struktural Fungsional
”Fungsionalisme struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang.” Kata Robert Nisbet (Dikutip dari Turner and Maryanski, 1979).
Kingsley Davis (1959) dan Alvin Goulduer (1970) berpendapat bahwa ”Fungsionalisme struktural adalah sinonim dengan sosiologi”, pendapat yang secara tersirat menyerang sosiologi barat Talcott Parsons melalui analisis kritis terhadap fungsionlaisme struktural.
Wilbert Moore yang sangat memahami teori ini, dengan dua pengamat lain menyatakan, ”Fungsionalisme struktural sebagai teori sosiologi telah merosot arti pentingnya, bahkan telah menjadi sesuatu yang memalukan dalam perkembangan teori sosiologi masa kini. Fungsionalisme Struktural sebagai sebuah teori yang bersifat menjelaskan kami kira sudah ’mati’, dan upaya untuk menggunakan fungsionalisme sebagai penjelasan teoritis harus ditinggalkan dan mencari perspektif teoritis lain yang lebih memberi harapan”.
Menanggapi tentang Teori Fungsional, Demerath dan Peterson (1967) berpandangan lebih positif. Mereka menyatakan bahwa Fungsionalisme struktural belum mati. Teori ini mungkin dapat dikembangkan menjadi teori lain sebagaimana teori ini dikembangkan dari pemikiran organisme lebih awal.
Sebenarnya apa yang dibahas dari Teori Struktural Fungsional ini? Melihat pendapat-pendapat para ahli dan pengamat di atas, tampaknya teori ini merupakan teori sosiologi yang menimbulkan banyak pro dan kontra.
Yang pokok dari perspektif ini, adalah pengertian sistem yang diartikan sebagai suatu himpunan atau kesatuan dari unsur-unsur yang saling berhubungan selama jangka waktu tertentu, atas dasar pada pola tertentu. Lembaga sosial sebagai unsur struktur, dianggap dapat memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup dan pemeliharaan masyarakat. Setiap lembaga sosial mempunyai fungsinya masing-masing dan dalam hubungan antara satu dengan lainnya. Oleh karena para Sosiolog yang berpendirian demikian mempunyai perhatian utama terhadap struktur dan fungsinya, maka perspektif itu disebut Teori Struktural Fungsional.
Tokoh-tokoh teori ini antara lain Talcott parsons, Kingsley davis, dan Robert K. Merton.
KESIMPULAN: Teori Struktural Fungsional adalah teori yang menjelaskan bahwa ada suatu sistem dalam struktur sosial, dimana sistem ini mengatur sehingga tiap anggota memiliki pekerjaannya masing-masing dan tiap anggota harus menjalankan bagiannya masing-masing. Namun walau terpisah-pisah, mereka tetap merupakan suatu himpunan yang harus bekerjasama dan berhubungan antara yang satu dengan yang lain (saling mempengaruhi).

3. Teori Konflik
Di dalam suatu masyarakat dapat dijumpai hal-hal yang dianggap baik, namun ada golongan-golongan tertentu yang merasa dirugikan. Contohnya kekayaan material, kekuasaan, kedudukan, dan lain sebagainya. Hal ini menimbulkan pertikaian atau konflik.
Konflik mencakup satu proses, dimana terjadi pertentangan hak atas kekayaan, kekuasaan, kedudukan, dan seterusnya, dimana salah satu pihak berusaha menghancurkan pihak lain.
Karl Marx dan Friedrich Engels dalam ”Communist Manifesto” (1848) menganggap bahwa proses terpenting dalam masyarakat adalah terjadinya pertentangan kelas / Class Struggle. Menurut Marx dan Engels, maka suatu golongan yang memerintah mempunyai kedudukan tersebut, oleh karena menguasai sarana produksi yang penting bagi kelangsungan hidup masyarakat. Walaupun pertentangan kelas merupakan titik sentral dari teori Marx, akan tetapi kebanyakan sosiolog kontemporer meninjau konflik yang terjadi antara golongan ras berbeda, agama yang berbeda, antara produsen dengan konsumen, dan seterusnya.
Teori konflik menyediakan alternatif terhadap fungsionalisme struktural. Teori ini lebih merupakan sejenis fungsionalisme struktural yang angkuh ketimbang teori yang benar-benar berpandangan kritis terhadap masyarakatnya. Teori ini merupakan karya Ralf Dahrendorf. Dalam karyanya, pendirian teori konflik dan teori fungsional disejajarkan.
Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Tetapi menurut Dahrendorf dan teoritisi konflik lainnya, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Mereka melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubaan. Teoritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Mereka juga menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
Kelompok, konflik, dan perubahan. Selanjutnya Dahrendorf membedakan 3 tipe utama kelompok, yaitu kelompok semu, kelompok kepentingan, dan kelompok konflik atau kelompok yang terlibat dalam konflik kelompok aktual.
Aspek terakhir dari teori konflik Dahrendorf adalah hubungan konflik dengan perubahan. Dalam hal ini Dahrendorf mengakui pentingnya pemikiran Lewis Coser yang memusatkan perhatian pada fungsi konflik dalam mempertahankan status quo. Namun Dahrendorf menganggap fungsi konservatif dari konflik hanyalah satu bagian realitas sosial; konflik juga menyebabkan perubahan dan perkembangan.
Tokoh-tokoh dari Teori Konflik adalah C. Wright Mills, Tom B. Bottomore, Ralf Dahrendorf, Randall Collins, dan juga Richard P. Appelbaum.
KESIMPULAN: Inti dari Teori Konflik adalah, di masyarakat selalu akan ada kelompok atas yang menguasai kelompok bawah, kelompok ini dibagi berdasarkan kekuasaan, kemampuan, kekayaan, kekuatan, dsb. Kelompok bawah (yang lemah) akan ”ditindas” dan menjalankan kehendak kelompok atas. Fenomena ini akhirnya memicu pertikaian / konflik antar kelompok.

4. Authority Theory
Teori Otoritas juga dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf dan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari teori konflik. Membahas teori Otoritas, Dahrendorf memusatkan perhatian pada struktur sosial yang lebih luas. Inti tesisnya adalah gagasan bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas otoritas berbeda. Otoritas tidak terletak di dalam diri individu, tetapi di dalam posisi.
Dahrendorf tidak hanya tertarik pada struktur posisi, tetapi juga pada konflik antara berbagai struktur posisi itu: ”Sumber struktur konflik harus dicari di dalam tatanan peran sosial yang berpotensi untuk mendominasi atau ditundukkan”. Menurut Dahrendorf, tugas pertama analisis konflik adalah mengidentifikasikan berbagai peran otoritas di dalam masyarakat.
KESIMPULAN: Dalam kehidupan sosial, kehebatan manusia tidak terletak pada diri individu tersebut, tetapi terletak pada posisi / jabatan individu tersebut di dalam masyarakat.

5. Teori Interaksi-Simbolis
Suatu premis fundamental dalam sosiologi adalah bahwa segala makhluk merupakan makhluk sosial, sedangkan dasar kehidupan bersama dari manusia adalah komunikasi, terutama lambang-lambang, sebagai kunci untuk memahami kehidupan sosial manusia.
George Herbert Mead mangatakan ”Manusia mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain, dengan perantaraan lambang-lambang tertentu yang dipunyai bersama”. Mead menyatakan bahwa lambang-lambang, terutama bahasa tidak hanya merupakan sarana untuk mengadakan komunikasi antar pribadi, tetapi juga untuk berpikir.
Manusia mungkin saja berbicara dengan dirinya sendiri dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Dengan cara demikian seseorang menyesuaikan perlakunya dengan perilaku pihak lain.
Tokoh-tokoh teori Interaksi-Simbolis adalah Manford H. Kuhn, Herbert Blumer, Ralph H. Turner, Howard S. Becker, dan Norman K. Denzin.
KESIMPULAN: Segala makhluk hidup baik itu manusia, hewan, dan tumbuhan, adalah makhluk sosial. Yang membedakan adalah komunikasi. Manusia berkomunikasi dengan simbol-simbol tertentu, baik itu huruf, musik, gambar, ataupun bahasa.

6. Social-Exchange Theory
Di dalam pergaulan hidup manusia, maka terdapat suatu kecenderungan yang kuat bahwa kepuasan dan kekecewaan bersumber pada perilaku pihak lain terhadap dirinya sendiri. Timbulnya rasa cinta, stimulasi intelektual, persahabatan, rasa harga diri, dan seterusnya, merupakan akibat dari perilaku pihak lain terhadap diri sendiri.
Dasar teori ”Social-Exchange” yang dikemukakan oleh James W. Vander Zanden (1979) adalah: ”... People are viewed as ordering their relationships with others in terms of a sort of mental bookkeeping that entails a ledger of rewards, costs, and profits.”
Kalau seseorang menghendaki keuntungan dari sebuah hubungan, dia harus pula bersedia untuk berkorban, atau mengusahakan agar pihak lain merasa beruntung. Mengenai hal ini, Peter Blau menyatakan: “The more people have to offer, the more demand there will be for their company. Accordingly, others will themselves have to offer more before they can hope to win such people’s friendship. In this fashion the principle of supply and demand insures that people will get only partners as desirable as they deserve.”
Tokoh-tokoh dalam Teori Social-Exchange adalah Peter Blau, James W. Vander Zanden, James S. Coleman, George C. Homans, serta Peter P. Ekeh.
KESIMPULAN: Secara sosial, demi memperoleh suatu kepuasan dari hubungan dengan orang lain, maka kita perlu memuaskan orang lain terlebih dahulu, maka barulah kita akan dipuaskan lewat hubungan sosial itu (hubungan timbal-balik, kita menyenangkan, barulah kita disenangkan).

7. Mead Theory
George Herbert Mead menyatakan teori tentang manusia yang disebut Teori Mead. Teori Mead berkembang dalam konteks alam pikiran dari teori Darwin (pencetus Teori Evolusi). Mead berusaha untuk memberikan keyakinan bahwa manusia merupakan makhluk yang paling rasional dan memiliki kesadaran akan dirinya. Mead menerima pandangan Darwin yang menyatakan bahwa dorongan Biologis memberikan motivasi bagi perilaku manusia. Dia menambahkan bahwa dorongan-dorongan tadi juga mempunyai sifat sosial, oleh karena rasa lapar, kegairahan seksual, dan lain sebagainya memerlukan pihak lain agar terjadi kepuasan. Yang sangat penting adalah modifikasi mead terhadap pendapat Darwin mengenai komunikasi, yang menyatakannya sebagai ekspresi dari perasaan. Akan tetapi masih banyak hal-hal yang belum jelas, yaitu apabila tanda-tanda dan lambang-lambang komunikasi hanya dikaitkan dengan perasaan pribadi.
Suatu perbuatan yang dilakukan seseorang dalam hubungan dengan pihak lain disebut gerakan. Gerakan-gerakan tersebut baik yang bersifat lisan maupun tidak, cenderung merupakan lambang-lambang, artinya gerakan-gerakan tersebut masing-masing mempunyai makna tertentu, khusus bagi gerakan tersebut. Pada dasarnya, hal-hal yang dilakukan hewan semata-mata didasarkan pada naluri. Misalnya seekor anjing akan melakukan gerakan-gerakan yang merupakan tiruan dari anjing lain, untuk menyesuaikan diri. Akan tetapi semua itu bersifat instruktif. Pada hewan tersebut, sama sekali tidak ada suatu kesadaran akan dirinya sendiri.
Interaksi antar manusia di dalam prosesnya, mungkin berisikan kesadaran diri yang berbeda-beda kualitasnya. Menurut Mead, kemampuan-kemampuan tadi memerlukan daya pikir tertentu, khususnya daya pikir reflektif. Oleh karena itu, maka esensi kesadaran diri menurut Mead adalah suatu pengakuan terhadap hakekat diri sebagaimana dianggap oleh pihak-pihak lain.
KESIMPULAN: Manusia adalah makhluk yang sangat rasional dan menyadari keberadaan dirinya. Tiap tindakan yang dilakukan oleh manusia benar-benar disadari dan dimengerti oleh manusia tersebut (berbeda dengan hewan yang bertindak tanpa mengerti akibat dari tindakannya).

8. Goffman Theory
Erving Goffman adalah tokoh yang membuat analogi antara kehidupan sehari-hari dengan sebuah pertunjukan atau pementasan sandiwara.
Goffman telah berhasil untuk membuat suatu generalisasi. Setiap orang dari kategori tersebut rata-rata mempunyai suatu stigma, oleh karena identitas sosialnya didominasikan oleh satu aspek saja. Salah satu akibatnya adalah, bahwa orang-orang yang telah diberi stigma akan mencari dan kemudian bergabung dengan orang-orang yang nasibnya sama, semacam pengesahan terhadap stigma tersebut.
KESIMPULAN: Manusia adalah makhluk sosial yang secara tidak langsung akan diberi label atau stigma dalam masyarakat, contohnya ‘Orang Kaya’, ‘Kutu Buku’, ‘Anak Nakal’, ‘Olahragawan’, dsb. Tanpa disadari pula, dalam masyarakat, orang-orang ini akan mencari orang lain yang memiliki stigma yang sama dan akhirnya membentuk suatu kelompok karena merasa ada kesamaan nasib (akhirnya menjadi ‘Kelompok Orang Kaya’, ‘Kelompok Kutu Buku’, ‘Kelompok Anak Nakal’, ‘Kelompok Olahragawan’, dsb).

9. Karl Marx Theory
Intinya sederhana, yaitu bahwa harus ada sistem produksi dan distribusi agar manusia dapat bertahan dalam hidupnya. Menurut Marx, maka sistem produksi untuk bagian terbesar ditentukan oleh taraf perkembangan teknologi dari suatu masyarakat. Marx berprefensi, bahwa distribusi dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Manurut kapitalisme, maka distribusi dilakukan sesuai dengan kemampuan warga masyaakat untuk membayar.
Hipotesa marx adalah bahwa apabila golongan proletar merasa dieksploitasikan karena kedudukan kelasnya dalam masyarakat kapitalis, maka mereka akan bangkit untuk menghentikan penindasan yang dilakukan kelas lain yang lebih tinggi (golongan Burjois). Di dalam eksperimen tersebut, peserta yang merasa tertekan oleh asisten, padahal mereka sadar akan kedudukan yang sama, akan bersikap menentang.
KESIMPULAN: Teori Karl Marx ini hampir sama dengan Teori Konflik dari Ralf Dahrendorf, hanya saja teori ini bisa disebut ”kelanjutan” atau hasil akhir dari teori Konflik. Yaitu apabila kaum Proletar (kelas bawah) sudah tertekan oleh kaum Burjois (kelas atas), maka kaum Proletar akan menentang dan berusaha menggulingkan kekuasaan kaum Burjois. Atau jika dalam suatu lingkungan sosial, seseorang merasa tertekan oleh orang lain yang memiliki kedudukan yang sama, orang yang tertekan pada akhirnya akan menentang dan berusaha menjatuhkan orang lain yang menekan.

10. Teori Pembagian Kerja
Teori Pembagian Kerja dikemukakan oleh Durkheim. Durkheim berpendapat bahwa tekanan evolusioner terhadap pekembangan dari peradaban, sebagai hal yang meragukan dasar-dasarnya. Durkheim sangat kritis, terutama terhadap pernyataan bahwa perubahan masyarakat terjadi sebagaimana halnya dengan perubahan-perubahan gejala-gejala non-organis dan psikologis.
Durkheim lebih banyak menonjolkan taraf-taraf perkembangan masyarakat, daripada menggambarkan masyarakat yang semakin lama semakin beradab. Durkheim seringkali menganalisa masyarakat secara biologis dan menggambarkan perkembangan masyarakat sebagaimana pernah dilakukan oleh Spencer.
Durkheim juga mencatat adanya faktor-faktor lain sebagai penyebab terjadinya konflik dalam pembagian kerja. Situasi ditandai dengan pengaruh kehidupan kota yang menular. Digantinya tenaga manusia dengan mesin, menurunnya kebanggaan akan ketrampilan, dan spesialisasi yang semakin meningkat. Hasilnya bukanlah solidaritas, melainkan konflik, oleh karena pelbagai organ masyarakat tidak saling berhubungan, karena tak ada pengaturan.
Hal yang sangat membedakan antara Teori Karl Marx dengan Teori Pembagian Kerja Durkheim adalah:
1. Marx mengakhiri diagnosisnya dengan terapi agar golongan tertekan berjuang, juga secara fisik.
2. Durkheim mengharapkan agar manusia dapat menanggung tekanan sampai kembalinya normalitas dalam masyarakat.
KESIMPULAN: Dalam kehidupan, dunia akan berkembang menjadi semakin modern. Fenomena ini membuat kemampuan dan keterampilan manusia terabaikan karena tenaga manusia digantikan oleh tenaga-tenaga mesin yang canggih. Hal ini menimbulkan tekanan bagi individu-individu yang akhirnya tidak dapat bekerja. Durkheim mengharapkan kumpulan individu yang tertekan tersebut terus menunggu hingga keadaan masyarakat kembali menjadi normal.

11. Teori Stratifikasi Sosial
Dikemukakan oleh Randall Collins, Stratifikasi Sosial adalah institusi yang menyentuh begitu banyak ciri kehidupan seperti ”kekayaan, politik, karier, keluarga, klub, komunitas, gaya hidup”.
Randal Collins menggunakan teori Marx dan Weber sebagai pondasi dari teorinya. Mengenai teori Marx dan Weber yang ia gunakan, Collins memiliki 3 opini:
1. Collins berpendapat bahwa pandangan Marx yang menyatakan kondisi material yang terlibat dalam pencarian nafkah dalam masyarakat modern adalah faktor yang menentukan gaya hidup seseorang.
2. Menurut perspektif Marxian kondisi material tak hanya memengaruhi cara individu mencari nafkah, tetapi juga mempengaruhi ciri-ciri kelompok sosial dalam kelas sosial yang berbeda.
3. Collins menyatakan bahwa Marx juga menunjukkan besarnya perbedaan antara kelas-kelas sosial berdasarkan akses dan kontrol mereka terhadap sistem kultural.
KESIMPULAN: Dalam kehidupan sosial, kondisi material seseorang menjadi tolak ukur dampak orang tersebut dalam masyarakat. Semakin kaya seseorang, maka orang tersebut akan memiliki gaya hidup kelas atas. Semakin kaya, maka orang tersebut akan memiliki lebih banyak akses dan koneksi bisnis. Semakin kaya, maka orang tersebut akan semakin eksklusif dan memiliki kelompok yang terdiri dari orang-orang kelas atas. Semakin kaya seseorang, maka orang tersebut dapat menjadi panutan bagi banyak orang.

12. Teori Stratifikasi Konflik
Kembali dikemukakan oleh Randall Collins, teori ini merupakan pendekatan konflik stratifikasi yang memiliki banyak kesamaan dengan teori fenomenologi dan etnometodologi. Orang dipandang mempunyai sifat sosial (sociable), tetapi juga terutama mudah berkonflik dalam hubungan sosial mereka. Konflik mungkin terjadi dalam hubungan sosial karena ”penggunaan kekerasan” yang selalu dapat dipakai seseorang atau banyak orang dalam lingkungan pergaulan. Collins yakin bahwa orang berupaya untuk memaksimalkan ”status subjektif” mereka dan kemampuan untuk berbuat demikian tergantung pada sumber daya mereka maupun sumber daya orang lain dengan siapa mereka berurusan. Ia melihat orang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri; jadi benturan mungkin terjadi karena kepentingan-kepentingan itu pada dasarnya saling bertentangan.
Pendekatan konflik terhadap stratifikasi dapat diturunkan menjadi tiga prinsip, yaitu:
1. Collins yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri.
2. Orang lain mempunyai kekuasaan untuk memengaruhi atau mengontrol pengalaman subjektif seorang individu.
3. Orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadi konflik antar individu.
KESIMPULAN: Dalam interaksi sosial, tiap individu memiliki pemikiran yang berbeda-beda dengan individu lain. Tiap individu juga memiliki kekuasaan untuk memengaruhi atau mengontrol individu lain, hanya saja banyak individu yang tidak suka diatur dan dikontrol dengan pemikiran orang lain. Permasalahan yang sering terjadi adalah, tiap orang sering mencoba untuk mengontrol orang lain yang pemikirannya tidak sejalan dengan mereka, akibatnya dalam interaksi sosial, sangat sering terjadi konflik antar individu.

13. Teori Pragmatisme
Pragmatisme adalah pemikiran filsafat yang meliputi banyak hal. Ada beberapa aspek pragmatisme yang memengaruhi orientasi sosiologis yang dikembangkan oleh Mead:
1. Menurut pemikiran pragmatisme, realitas sebenarnya tidak berada ”di luar” dunia nyata; realitas ”diciptakan secara aktif sat kita bertindak di dalam dan terhadap dunia nyata”.
2. Manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka mengenai dunia nyata pada apa yang terbukti berguna bagi mereka.
3. Manusia mendefinisikan ”objek” sosial dan fisik yang mereka temui di dunia nyata menurut kegunaannya bagi mereka.
4. Bila kita ingin memahami aktor, kita harus mendasarkan pemahaman itu di atas apa-apa yang sebenarnya mereka kerjakan di dunia nyata.
5. Poin terakhir adalah yang paling menonjol dalam karya filosof pragmatis, John Dewey. Dewey tak membayangkan pikiran sebagai sesuatu atau sebagai struktur, tetapi lebih membayangkan sebagai proses berpikir yang meliputi serentetan tahapan. Tahapan proses berpikir itu mencakup pendefinisian objek dalam dunia sosial, melukiskan kemungkinan cara bertindak, membayangkan kemungkinan akibat dari tindakan, menghilangkan kemungkinan yang tak dapat dipercaya dan memilih cara bertindak yang optimal.
KESIMPULAN: Pemikiran manusia adalah hal yang sangat luas. Terbukti dari manusia dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa mendatang jika di masa kini mereka berbuat seperti ini. Manusa selalu akan mengingat dan mempelajari sesuatu dari pengalaman. Manusia dapat menamakan suatu objek menurut fungsinya (contohnya alat untuk menanak nasi diberi nama ”Rice Cooker”, alat untuk mengeringkan rambut diberi nama ”Hair Dryer”, dsb). Manusia dapat bersikap seperti orang lain yang bukan dirinya sendiri dengan membayangkan seolah-olah dirinya adalah orang lain (kemampuan akting). Manusia lewat pikirannya juga dapat memikirkan sebab-akibat dari tindakannya, dapat menjatuhkan pilihannya dengan tepat, dan masih banyak lagi hal-hal luar biasa yang dapat dilakukan lewat pemikiran manusia.

14. Teori Behaviorisme
Lewis dan Smith menafsirkan bahwa Mead dipengaruhi oleh ”Behaviorisme Psikologis”, sebuah perspektif yang juga membawanya ke arah realis dan empiris. Mead sebenarnya menyebut basis pemikirannya sebagai Behaviorisme Sosial untuk membedakannya dengan Behaviorisme Radikal dari John B. Watson:
1. Teori Behaviorisme Radikal (Oleh John B. Watson): Pemusatan perhatian pada perilaku individual yang dapat diamati. Sasaran perhatiannya adalah pada stimuli atau perilaku yang mendatangkan respon. Penganut Behaviorisme Radikal menyangkal atau tidak mau menghubungkan proses mental tersembunyi yang terjadi di antara saat stimuli dipakai dan respon dipancarkan.
2. Teori Behaviorisme Sosial (Oleh George Herbert Mead): Unit studi adalah ”tindakan” yang terdiri dari aspek tersembunyi dan yang terbuka dari tindakan manusia. Di dalam tindakan itulah semua kategori psikologis tradisional dan ortodoks menemukan tempatnya. Perhatian, persepsi, imajinasi, alasan, emosi, dan sebagainya dilihat sebagai bagian dari tindakan. Karenanya tindakan meliputi keseluruhan proses yang terlibat dalam aktivitas manusia.
KESIMPULAN:
• Teori Behaviorisme Radikal adalah Teori yang memperhatikan tingkah laku manusia yang dapat dilihat, jadi apa tindakan seseorang, dan apakah tindakan orang lain sebagai balasannya. Teori ini tidak mau memperhitungkan pemikiran antara komunikan dan komunikator, yang dilihat hanyalah apa yang terjadi secara fisik.
• Teori Behaviorisme Sosial memiliki inti bahwa tindakan meliputi keseluruhan proses yang terlibat dalam aktivitas manusia. Jadi baik itu tindakan secara fisik, mapun apa yang dipikirkan, diperhatikan, diimajinasikan oleh komunikan maupun komunikator, dilihat sebagai ”tindakan”. Jadi teori Behaviorisme Sosial mempelajari tingkah laku manusia, baik secara fisik, maupun mental.

15. Etnometodologi
Pusat perhatian etnometodologi adalah bagaimana suatu perilaku yang merupakan kebiasaan terjadi atau berlangsung. Seorang etnometodologis mempelajari bagaimana warga masyarakat membentuk dan berpegang pada presumsi , bahwa kehidupan sosial merupakan suatu ciri yang nyata, dengan kata lain Etnometodologi ingin meneliti tingkah laku warga masyarakat yang secara sadar atau tidak sadar membentuk kebiasaan atau menyimpang dari kebiasaan yang merupakan suatu realitas dan tertib sosial tertentu. Tujuan utamanya adalah mengungkapkan latar belakang dari perilaku yang dianggap biasa.
Istilah Etnometodologi (ethnomethodology), yang berakar pada bahasa Yunani, berarti ”metode” yang digunaan orang dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Bila dinyatakan secara sedikit berbeda, dunia dipandang sebagai penyelesaian masalah secara praktis secara terus-menerus. Manusia dipandang rasional, tetapi dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan ”penalaran praktis”, bukan logika formula.
Etnometodologi memiliki definisi: ”Kumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dengannya masyarakat biasa dapat memahami, mencari tahu, dan bertindak berdasarkan situasi dimana mereka menemukan dirinya sendiri”.
Etnometodologi membicarakan objektivitas fakta sosial sebagai prestasi anggota—Sebagai produk aktivitas metodologis anggota.
Tokoh-tokoh Etnometodologi antara lain Harold Garfinkel, Harvey Sacks, Aaron V. Cicourel, David Sudnow, Hugh Mehan, serta Houston Wood.
KESIMPULAN: Teori Etnometodologi menyatakan bahwa manusia dalam kehidupan sosial bertindak sesuai rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan tiap individu. Teori ini mempelajari bahwa manusia secara sadar atau tidak sadar membentuk kebiasaan atau menyimpang dari realitas sosial. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini akan menjadi rutinitas yang dianggap biasa / normal.

16. Teori Feminis
Teori Feminis berbeda dengan kebanyakan teori sosiologi dalam berbagai hal. Pertama, teori ini adalah pemikiran sebuah komunitas interdisipliner, yang tidak hanya mencakup para sosiolog, tetapi juga sarjana dari disiplin lain seperti penulis kreatif dan aktivis politik. Kedua, sosiolog feminis bekerja dengan agenda ganda; memperluas dan memperdalam ilmu asli mereka—dalam kasus ini adalah sosiologi—dengan menggunakan pengetahuan sosiologi untuk menganalisis kembali temuan studi yang dibuat oleh sarjana feminis; dan mengembangkan pemahaman kritis mengenai masyarakat untuk mengubah kehidupan ke arah yang dianggap lebih adil dan berperikemanusiaan.
Teori feminis modern bertolak dari pertanyaan sederhana: ”Dan bagaimana dengan perempuan?” Dengan kata lain, di mana wanita berada di dalam setiap situasi yang diteliti? Bila wanita tak berperan, mengapa? Bila mereka berperan, apa sebenarnya yang mereka lakukan? Bagaimana mereka mengalami situasi? Apa yang mereka sumbangkan untuk itu? Apa artinya itu bagi mereka? ”Mengapa semuanya ini terjadi?”, ”Bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya mejadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang?”, Apa konsekuensi dari cara berpikir untuk mengubah ketimpangan dalam kehidupan wanita? Bagaimana cara menjelaskan dunia seperti ini akan memperbaiki kehidupan semua perempuan? ”Dan bagaimana dengan perbedaan di antara perempuan?”
Seberapa umum teori ini? Orang mungkin akan menanyakannya karena pertanyaan khusus tertuju pada situasi ”kelompok minoritas”, yakni perempuan, maka teori yang dihasilkan tentu juga khusus dan terbatas ruang lingkupnya, sama dengan teori sosiologi perilaku menyimpang atau proses kelompok kecil. Tetapi sebenarnya pertanyaan mendasar feminisme telah menghasilkan teori tentang dunia sosial yang penerapannya universal.
KESIMPULAN: Teori Feminis adalah teori Sosiologi yang tidak hanya diciptakan oleh para ahli sosiologi, melainkan juga dicetuskan oleh banyak penulis dan aktivis politik. Teori ini berusaha mengadakan keadilan bagi kaum perempuan, karena pada masa itu (masa sebelum teori ini), keberadaan perempuan selalu dipertanyakan. Selama periode ini, wanita tidak banyak berperan. Malalui pertanyaan-pertanyaan dari Teori Feminis ini, dihasilkan suatu kesimpulan, bahwa wanita tak berperan itu bukan karena keterbatasan kemampuan atau perhatian mereka, tetapi karena ada upaya sengaja untuk mengucilkan mereka.

17. Teori Sosiologi Jender
Teori Sosiologi tentang jender merupakan satu tempat pertemuan dari teori feminisme dan teori sosiologis yang telah menjadi semakin penting di dunia.
Teori Sosiologi tenang jender merupakan hasil dari teori Feminis terhadap deviasi.

REFERENSI
Soekanto, Soerjono. SOSIOLOGI — Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. 1970.
McGraw, Hill. Teori Sosiologi Modern — Edisi Keenam. Jakarta: Kencana. 2004.
Soekanto, Soerjono. Teori Sosiologi — Tentang Pribadi Dalam Masyarakat. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia. 1982.

3 comments:

  1. boleh tanya ? ini merupakan suatu teori komunikasi yang berkaitan dengan sosiologi komunikasi ya ? thanks

    ReplyDelete
  2. Keren boss web nya :)

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar, jangan malu-malu...