Powered By Blogger

December 6, 2012

HISTORICAL TASTE: Pecel Mbok Rah Surabaya Pertahankan Citarasa 61 Tahun



Hari masih menunjukkan pukul setengah enam, namun kota Surabaya telah terbangun untuk memulai kesibukannya. Kendaraan-kendaraan berseliweran di jalan untuk memulai aktivitasnya masing-masing; mencari penumpang, menuju ke suatu lokasi untuk bekerja, atau hanya sekedar bersantai dan mengisi perut. Surabaya memang memiliki ratusan tempat yang layak dikunjungi untuk menambah wawasan maupun rekreasi, namun di kota terbesar kedua di Indonesia ini, satu yang tidak boleh dilewatkan pengunjung dari kota lain: kuliner yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.

Melewati jalan Ngagel Jaya, sebuah spanduk merah dan kuning dengan tulisan “Mbok Rah” tampak menarik perhatian. Nama itu tampak familiar dan saya mencoba mengingatnya, darimana saya pernah mendengar nama itu. Tak lama pikiran saya membawa saya ke kenangan masa kecil, ayah saya sering mengajak saya menikmati pecel dengan nama yang sama di kawasan Tugu Pahlawan. Apakah ini pecel yang sama, pecel yang saya makan waktu saya masih kecil? Saya mendekat dan melihat tulisan “Buka Cabang Pagi” di bagian bawah spanduk.


“Pecel Mbok Rah, ya sudah papa makan dari papa kecil, sudah lama itu ada, sampai sekarang rasanya juga nggak pernah berubah.” Terang ayah saya.

Ingin kembali mencicipi citarasa kuno, saya pun berjalan memasuki depot tersebut.


“Permisi, Pak. Ini Pecel cabang darimana, ya?” Tanya saya.

“Ini cabang Tugu Pahlawan, mas.” Balas si penjual.

Makin yakinlah saya kalau ini adalah pecel yang pernah saya nikmati sewaktu saya masih kecil.

Pecel, makanan yang terkenal berasal dari Madiun ini biasa dinikmati masyarakat Surabaya.
Pada umumnya nasi pecel hanya terdiri dari nasi, sayur, bumbu pecel yang terbuat dari kacang, krupuk peyek, serta lauk-lauk tambahan lainnya.
Tapi seorang “mbok” yang dulu dikenal dengan panggilan Mbok Rah berani bereksperimen dengan nasi pecel. Pecel Mbok Rah yang telah dijual di daerah Tugu Pahlawan selama 61 tahun kini melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di jalan Ngagel Jaya nomor 54.

Pecel Mbok Rah yang orisinal khas tempoe doeloe

Yang istimewa dari pecel Mbok Rah adalah citarasanya yang tidak pernah berubah selama 61 tahun. Keturunan Mbok Rah terus mempertahankan citarasa tempo dulu. Mbok Rah pertama kali menurunkan bisnis pecelnya pada anaknya, Pak Mulyono. Kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Ibu Sutati di jalan Tugu Pahlawan, dan kini di Ngagel telah dibuka cabang oleh ke 2 cicitnya, Pak Hadi dan Pak Anang. Mereka berkomitmen untuk terus mempertahankan citarasa awal dari pecel Mbok Rah.

"Ini adalah bisnis turun-temurun, 61 tahun yang lalu nenek buyut saya, mbok Rah pertama kali berjualan di daerah Tugu Pahlawan, Tempatnya juga tidak pernah berubah; di antara Bank Commonwealth dan tempat kursus Prisma Profesional," ujar Pak Hadi.

Pecel Mbok Rah tidak hanya menjual nasi pecel, namun juga nasi lodeh dan nasi semur. Inilah yang membuatnya istimewa: Semua makanan ini dapat dikombinasikan dan menghasilkan citarasa yang lain dari yang lain, "Kita paling sering menjual pecel lodeh, citarasanya beda dari yang lain. Terkadang pembeli juga meminta pecel semur atau semur lodeh. Semua bebas, tergantung selera," ujar Pak Hadi.

Cabang Pecel Mbok Rah di jalan Ngagel buka mulai pukul 08:30 WIB - 15:00 WIB, sedangkan pusatnya di Tugu Pahlawan buka mulai pukul 16:30 WIB - 21:00 WIB, "Tapi yang di Tugu Pahlawan biasanya jam 19:30 WIB sudah habis," ujar Pak Hadi. Pecel lodeh yang ditawarkan Mbok Rah memang tidak bisa disamakan dengan pecel yang lain. Ciri khas itu tidak bisa ditiru, dari bumbu dan aromanya, dapat langsung diketahui kalau ini adalah nasi pecel yang khas tempo dulu.

Menuju Pecel Mbok Rah di kawasan Tugu Pahlawan, telah terlihat mobil-mobil mengantri hanya untuk menikmati nasi pecel tempo dulu. Dinikmati dengan the manis hangat, pembeli juga dapat memesan kue leker seharga Rp 1.500,- per buah yang dijual di sebelah Pecel Mbok Rah.

Pecel Mbok Rah pertama dijual tahun 1950, dengan lokasi yang tidak pernah berubah, sampai sekarang masih tetap di antara Bank Commonwealth dan Prisma Profesional. Pada masa itu, kedua tempat ini memang masih belum ada, namun di antara gang yang sama, ketenaran pecel Mbok Rah sudah melegenda di kawasan Baliwerti. Harganya-pun terjangkau, pecel Mbok Rah dijual dengan harga Rp 8 ribu - Rp 10 ribu, tergantung dengan lauk yang anda pilih. Kalau saat ini konsumen harus merogoh kocek sebesar itu, dulu nasi pecel satu porsi hanya dihargai 5 rupiah, kemudian naik menjadi 25 rupiah, dan terus naik sampai harganya yang saat ini.

Keistimewaan utama Pecel Mbok Rah terletak pada rasa dari bumbunya. Bumbu pecel ini memakai resep turun temurun yang tidak pernah dirubah selama 61 tahun “Bumbunya itu yang nggak bisa dibeli di tempat lain. Ada rasa yang unik dan khas di sini. Ya, sudah dari dulu sekali saya makan pecel ini, ya ini kesukaan saya, pecel lain nggak bisa kayak gini,” ujar Michael, salah satu penikmat pecel Mbok Rah di kawasan Tugu Pahlawan.

Orang-orang sangat menggemari pecel Mbok Rah karena bumbu pecelnya yang istimewa dengan rasa pedas yang menggigit lidah. Keunikannya terletak juga pada kombinasi lauk yang tidak ditemui pada nasi pecel yang lain: Dengan sedikit ikan teri, daging empal, telur rebus kecap, krupuk peyek yang sangat renyah, dipadu dengan kuah lodeh yang hangat menimbulkan sensasi rasa yang tidak ada duanya. Kalau anda penggemar nasi pecel, pecel Mbok Rah dapat menjadi referensi tambahan anda di Kota Surabaya. Tertarik untuk mencoba?


No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, jangan malu-malu...