
Segala informasi yang berguna, bermanfaat, asik dibaca, menambah wawasan, mendidik, gila-gilaan, gak jelas, lucu, aneh, nyata, opini, kritik, biografi, dan macem-macem, itu yang ada disini!
February 15, 2011
Apa saja Teori-Teori Sosiologi?

Pemanfaatan Dunia Internet Melalui Perspektif Interaksionisme Simbolik
Mempelajari Dominasi Suami Dalam Rumah Tangga yang Mengarah Pada Marital Rape
Kasus marital rape atau perkosaan dalam rumah tangga telah banyak memakan korban wanita yang pada akhirnya tidak berani melaporkan kejahatan suaminya kepada yang berwajib. Hal ini disebabkan para istri sadar sepenuhnya bahwa individu yang melakukan perkosaan adalah suaminya sendiri, pelaporan tindak kejahatan seperti ini membuat para wanita khawatir pihak yang berwenang tidak akan menanggapi masalah ini secara serius karena melihat kejahatan yang terjadi hanyalah hubungan intim antara suami dengan istri. Namun riset yang dilakukan untuk meneliti marital rape, rupanya menemukan bahwa perkosaan oleh suami jauh lebih berbahaya secara psikologis dibanding perkosaan oleh orang asing.
Marital rape is so destructive because it betrays the fundamental basis of the marital relationship, because it questions every understanding you have not only of your partner and the marriage, but of yourself. You end up feeling betrayed, humiliated and, above all, very confused. When it is the person you have entrusted your life to who rapes you, it isn’t just physical or sexual assault, it is a betrayal of the very core of your marriage, of your person, of your trust.
Disarikan dari artikel “Marital Rape”, dalam Hidden Hurt – Domestic Abuse Information http://www.hiddenhurt.co.uk/Articles/maritalrape.htm

Tidak dapat dipungkiri dalam rumah tangga suami merupakan kepala yang memimpin dan mendominasi. Namun sejauh apakah dominasi suami terhadap istri dapat dikatakan wajar? Paradigma konflik akan membedah dominasi suami dalam rumah tangga untuk kasus marital rape.
Konflik adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam rumah tangga, namun dapatkah konflik dituntaskan lewat mengutamakan dominasi? Pandangan konflik menurut Karl Marx fokus pada kemampuan sekelompok orang tertentu untuk mendominasi orang lain, atau usaha untuk mempertahankan dominasinya. Dengan kata lain, konflik adalah usaha individu atau sekelompok orang untuk menindas pihak lain demi mempertahankan dominasi / kekuasaannya. Dalam rumah tangga, suami adalah pihak yang mendominasi. Suami merupakan pemimpin atas istri dan anak-anak, namun rupanya kekuasaan ini tidak selalu dimanfaatkan dengan benar. Demi mempertahankan kekuasaannya, suami dapat melakukan intimidasi terhadap istri. Lewat konflik-konflik kecil, suami dapat menjalankan aksi kekerasan terhadap istri hanya demi menunjukkan kepada istri bahwa sang suamilah yang berkuasa.

Para wanita yang diperkosa oleh suami pada umumnya akan mengalami kekerasan dalam jangka waktu yang panjang. Marital rape selalu terdiri dari kekerasan fisik yang menyakitkan, ancaman kekerasan, dan penggunaan senjata oleh suami melawan istri. Yang lebih penting, beberapa penelitian telah menemukan bahwa suami yang memukul dan memperkosa istri pada umumnya adalah pria yang berbahaya dan bahkan berpotensi untuk melanjutkan kekerasannya ke tingkat pembunuhan. Pembelajaran memakai sampel klinik dari wanita yang sering dipukul dalam rumah tangga menemukan bahwa 20%-70% selalu diperkosa oleh pasangannya paling tidak satu kali (Bergen, 1996; Browne, 1993; Campbell, 1989; Mahoney et al., 1998; Pence & Paymar, 1993). Penemuan ini mengarahkan para peneliti untuk memperdebatkan bahwa marital rape adalah “salah satu kelanjutan dari kekerasan dalam rumah tangga” (Johnson & Sigler, 1997, p. 22). Para wanita yang diperkosa dan dipukul oleh pasangan mengalami kekerasan dalam berbagai cara; beberapa dipukul selama kekerasan seksual berlangsung atau perkosaan akan menyusul setelah kekerasan fisik dilakukan, kemudian suami akan memaksa istri berhubungan intim dengannya melawan keinginan istri. Beberapa wanita mengalami apa yang disebut perkosaan “sadistik” atau “obsesif”; Pengintimidasian ini melibatkan siksaan dan / atau praktek aksi seksual dan seringkali melibatkan kekerasan fisik. Pada marital rape jenis ini, pornografi seringkali terlibat, dimana suami memaksa istri untuk menonton pornografi lalu memaksa istri untuk mempraktekan pornografi (Marital Rape: New Research and Directions http://new.vawnet.org/category/Main_Doc.php?docid=248. Artikel ini banyak bercerita tentang sejarah dan penelitian di bidang kekerasan terhadap wanita).
Jika dibedah dengan perspektif konflik, suami yang menyiksa dan memperkosa istri adalah individu yang berkuasa dan mempertahankan kekuasannya lewat jalan marital rape. Rasa tidak aman pada diri suami disebabkan ketakutan jika istri berani melawan, istri menentang pendapat suami, atau istri mulai berani memerintah suami. Ketakutan ini membuat suami tetap mempertahankan dominasinya lewat intimidasi kekerasan. Tidak dapat dipungkiri jika konflik akan selalu muncul dalam rumah tangga. Paradigma konflik menegaskan bahwa dalam realitas sosial selalu akan ada kelompok atas yang menguasai kelompok bawah, kelompok ini dibagi berdasarkan kekuasaan, kemampuan, kekayaan, kekuatan, dsb. Kelompok bawah (yang lemah) akan ”ditindas” dan menjalankan kehendak kelompok atas. Dipercaya lewat marital rape, istri akan tertekan dan tunduk pada suami. Memang marital rape efektif untuk membuat istri takut akan suami, namun marital rape adalah penghancur psikologis istri sekaligus penghancur cinta dan kepercayaan di dalam sebuah pernikahan.
Setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam mempertahankan dominasinya. Beberapa dapat menyelesaikan konflik dengan kepala dingin, beberapa hanya dapat mempertahankan kekuasaan dengan jalan intimidasi. Marital rape merupakan salah satu cara suami untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah tokoh dominan dalam rumah tangga, namun selain sangat tercela, marital rape juga tidak akan membuat istri mencintai suami, melainkan hanya membuat istri takut dan tunduk pada suami sebagai budak.
August 25, 2010
5 DNA Dalam New Media Menurut Lev Manovich
Dalam membandingkan antara New Media dengan Old Media, ada 5 gen / DNA yang dapat djadikan pembanding keduanya, dimana ke-5 hal ini wajib dimiliki suatu media yang disebut New Media.
Namun tidak setiap obyek media harus mematuhi prinsip 5 DNA ini. 5 DNA ini harus dipertimbangkan bukan sebagai Hukum-Pasti, tetapi lebih sebagai tendensi umum dalam budaya sekarang (yang lebih mengarah pada komputerisasi / digital).

5 DNA tersebut adalah:
1. NUMERICAL REPRESENTATION
(Pengaplikasian matematika dalam media)
New Media adalah media yang dibuat dengan kode digital, yaitu memakai representasi matematis. Hal ini membuat New Media dapat dideskripsikan secara formal / matematis. Contohnya, sebuah gambar dapat dijelaskan menggunakan fungsi matematika. Lalu, obyek new media adalah subyek dari manipulasi alogaritma; artinya new media selalu dikonvergensikan dengan ilmu matematis, contohnya, dengan menggunakan alogaritma yang tepat, kita dapat dengan otomatis membuang “noise” dari foto, meningkatkan kontras warna, mencari sisi-sisi dari bentuk, atau mengubah proporsi dan ukuran gambar, singkatnya, media menjadi mudah untuk diprogramkan.
Adanya pemahaman bahwa media harus dikonvergensi dengan ilmu matematika untuk menjadi new media saya rasa sangat tepat. Ilmu matematika memungkinkan kita dapat membuat blog pribadi, mengedit foto, mengetik, dsb. Jika media dimanfaatkan tanpa digabungkan dengan ilmu matematika, maka segala sesuatunya harus dikerjakan secara manual, seperti memotong foto harus dengan silet, menulis harus dengan tangan dan alat tulis, jika segalanya manual, bagaimana bisa disebut “new” media?
2. MODULARITY
(Adanya konvergensi / penggabungan aneka media menjadi satu)
DNA kedua ini membahas mengenai betapa media yang disebut new media, adalah media yang didalamnya terdiri dari gabungan berbagai elemen. Itu artinya terdapat konvergensi media di dalamnya, dimana beberapa media dijadikan satu, itu baru disebut new media. Namun walau media-media tersebut disatukan, tiap-tiap elemen memiliki independensi masing-masing; contohnya sebuah film multimedia yang dibuat dengan software Macromedia Director yang terkenal mungkin berisi ratusan gambar, QuickTime movies, dan suara yang dimasukkan secara terpisah dan berjalan selama film berjalan. Karena tiap-tiap elemen memiliki independensi masing-masing, maka masing-masing dapat dimodifikasi / di-edit kapanpun tanpa harus mengubah film itu sendiri (contoh: suaranya ditinggikan seperti chipmunk, tetapi gambar dan warna film tidak berubah).
Contoh lain adalah gambar yang memiliki aneka aplikasi (GIF, JPG, PSD, dsb), ketika gambar-gambar ini dipindah ke microsoft office seperti word, maka gambar-gambar itu masing-masing tetap berdiri secara independen dan dapat di edit sendiri-sendiri.
Kesimpulan dari modularity adalah, obyek new media terdiri dari bagian-bagian independen, yang masing-masing kembali terdiri dari bagian-bagian independen yang lebih kecil (berlapis-lapis) dan seterusnya hingga ke “atom” terkecil – pixel, poin 3-D, atau karakter teks.
3. AUTOMATION
(New media harus otomatis)
Apabila 2 DNA pertama (Numerical dan Struktur Modular) telah terpenuhi, maka media dapat mengoperasikan sifat otomatis dalam berbagai perangkatnya. Kesimpulannya, dengan adanya sifat matematis dan konvergnesi di dalamnya, media dapat digunakan / di-akses/ dioperasikan dengan lebih otomatis (instan, cepat, mudah).
Dalam Automation ini, sifat otomatis new media terbagi menjadi 2, yaitu Low-Level Automation dan High-Level Automation.
Low-Level Automation bekerja dengan mengubah atau menciptakan perubahan dari sketsa suatu obyek dengan memakai template atau alogaritma sederhana; contohnya program edit gambar seperti Photoshop dapat dengan otomatis memperbaiki gambar hasil scan, membersihkan gambar dan meningkatkan kontras gambar. Sifat otomatis ini juga dilengkapi dengan penyaring / filter yang dapat dengan otomatis merubah obyek, seperti suatu foto yang dapat dirubah hingga seakan-akan gambar tersebut telah dilukis oleh pelukis ternama seperti Van Gogh.
High-Level Automation mengharuskan komputer untuk memahami beberapa tingatan, makna pada obyek yang ada (komputer memahami semantik / bahasa). Ini merupakan pengembangan dari proyek Artificial Intelligence / AI (Kecerdasan buatan), contoh media yang telah memakai High-Level Automation aDalah Smart Camera, yang ketika diberi skrip, secara otomatis mengikuti aksi yang berjalan dan segera merekam. (Media seakan-akan hidup dan bisa berpikir).
4. VARIABILITY
(Satu new media, tercipta dan dapat diaplikasikan dalam berbagai versi)
Obyek new media bukanlah obek yang sekali jadi dan begitu seterusnya, tetapi new media haruslah media yang dapat eksis dalam versi yang berbeda-beda. Ini merupaan dampak lain dari DNA 1 dan 2 (Numerical dan Modularity).
Jika old media membutuhkan manusia sebagai pencipta secara manual (teks, visual, dan audio), maka new media haruslah media yang diciptakan sekali untuk banyak hal. Obyek dari new media harus diciptakan untuk berbagai versi yang berbeda, dan daripada diciptakan sepenuhnya oleh manusia sebagai pencipta, versi ini seringkali diciptakan demi tujuan otomatis dalam komputer. Oleh sebab itu, DNA ini (Varability) tidak mungkin terdapat jika tidak disertai dengan modularity (konvergensi media / penggabungan beberapa elemen media)
Contoh variability dalam new media, yaitu adanya software Photoshop yang tercipta dalam berbagai bentuk, Adobe (CS, CS3, dll), Idesign, atau microsoft office tools, atau dalam dunia internet, seperti blog yang memiliki layanan variatif, baik untuk menunjukkan musik, video, berita, dsb.
5. TRANSCODING
(Menerjemahkan suatu elemen media ke format lainnya)
Dalam perkembangannya, media harus mengikuti budaya yang ada dalam kehidupan manusia. Media harus berkembang dan berkembang, mengikuti kode-kode yang ada di masyarakat, supaya dapat diartikan / diterjemahkan dalam komputer. Hasilnya, akan muncul budaya komputer baru; yaitu pembauran makna dari manusia dan komputer (Budaya manusia yang menjadi model dunia, dan tujuan pribadi komputer dalam merepresentasikannya).
Ini merupakan DNA terakhir yang jauh sekali berkembang dari ke-4 DNA new media sebelumnya. Pada tahapan Transcoding, kita perlu memahami logika dari media, dan bagaimana media harus berubah mengikuti perkembangan manusia. Perkembangan ini tentu tidak langsung, tetapi pelan-pelan karena bertahap.
Untuk memahami logika new media, kita perlu memahami computer science. Disana kita dapat menemukan istilah-istilah baru, kategori-kategori, serta operasi untuk mengkarakterkan media menjadi mudah untuk diprogramkan.
Kesimpulannya; Transcoding merupakan DNA new media terakhir yang membuat media dipandang sebagai sesuatu yang dapat berpikir karena adanya perkembangan logika media sehingga media memiliki pembauran makna dengan manusia (New media adalah media yang “cerdas seperti manusia” karena terus berkembang seturut perkembangan jaman).
.
August 23, 2010
Model-Model Komunikasi Beserta Perspektif Human Relations Approach
Human Relations Approach adalah hal-hal yang berkaitan untuk memotivasi orang-orang di dalam organisasi dengan tujuan mengembangkan kerjasama tim yang efektif untuk memenuhi kebutuhan mereka serta mengarahkan mereka pada pencapaian tujuan organisasi.

Human Relations Approach dicetuskan pada tahun 1930 sebagai reaksi melawan pandangan mekanik dalam sebuah organisasi dan pandangan pesimis dari manusia yang diajarkan oleh pendekatan klasik.
Manusia adalah makhluk hidup yang kompleks dikarenakan beragamnya variabel yang bisa mengubah keadaan manusia. Menurut Kluckhohn dan Strodtbeck (dalam Schein: 1992) menyatakan bahwa “in some societies humans are seen as basically evil, in others as basically good, and in still others as mixed or neutral, capable of being either good or bad”. Pernyataan ini mengarahkan pada keberagaman pandangan terhadap natur manusia yang berarti bahwa cara penanganan manusia yang berbeda-beda pula.
Pada pemikiran organisasi awal, motivasi pekerja diperkirakan berasal dari sisi ekonomi saja (Schein, 125: 1992). Namun Argyris, 1964 (dalam Schein, 1992: 125) menyatakan bahwa, “employees are self-actualizers who need challenge and interesting work to provide self-confirmation and valid outlets for the full use of their talent”, sehingga motivasi bekerja seseorang tidak hanya datang dari dorongan ekonomi namun adanya keinginan untuk mengaktualisasikan diri.
Dalam Human Relations Approach, penekanannya ada pada motivasi individual, tujuan dan aspirasi. Selain itu, keberhasilan organisasi dapat dicapai jika ada motivasi individual dan hubungan interpersonal, terutama antara supervisor dengan bawahannya.
Rensis Likert pada tahun 1961 dan 1967 mengemukakan tentang “Linking-pin Model” yang menjelaskan bahwa “organizations should consist of ‘families’ that are tied together through their common members, who act as linking pins”. Likert memaparkan bahwa dalam setiap subordinat organisasi terdiri dari pengawas yang bertanggungjawab atas subordinatnya dan melapor pada pengawas di tingkat hirarki yang lebih tinggi. Linking pins bertugas yang bertugas sebagai penghubung harus bisa mendelegasikan tugas dari atas dan menyampaikan ‘suara’ dari bawah. Linking pins juga melapor tidak sebagai individual tetapi atas nama subordinat yang diwakilinya.

Teori Likert didasarkan pada empat konsep esensial yaitu:
1. Efektifitas proses dan tanggung jawab grup dalam memaksimalkan motivasi anggota organisasinya.
2. Pengarahan terhadap motivasi tujuan bersama dengan overlapping organizational families.
3. Yang memegang peranan kunci dalam menghubungkan antara kedua subordinat adalah fungsi linking pin.
4. Pengembangan dari siklus feedback yang pendek (tidak berbelit-belit) berdasarkan pada riset yang mengevaluasi fungsi dari sistem sosial dan teknis.
Keinginan dan motif individu diarahkan menjadi sebuah tanggung jawab bersama, sementara ketentuan peran dalam sebuah organisasi dikembangkan melalui tanggung jawab bersama itu juga. Dengan adanya tanggung jawab bersama, terbentuk sebuah kesepakatan bersama yang menghasilkan umpan balik turun ke grup subordinat (subordinat) dan umpan balik naik ke pengawas.
Keuntungan dari penerapan Model Likert:
1. Permasalahah struktural dapat teratasi.
2. Konflik internal dalam persaingan antara kepala unit dan anggota unit dapat teratasi.
3. Efektivitas alur komunikasi.
4. Pemaksimalan penggunaan sumber daya, kemampuan, dan motivasi setiap anggota.
5. Keputusan akan lebih mudah diimplementasikan.
Kerugian dari penerapan Model Likert:
1. Opini subordinat menjadi bias karena mengalami (beberapa kali) pergantian komunikator sebelem mencapai pengawas utama.
2. Distribusi penghargaan atas apa yang telah dilakukan oleh salah seorang anggota subordinat akan sulit dilakukan.
3. Adanya perbedaan kepentingan antara subordinat akan menimbulkan masalah.
4. Adanya keinginan anggota subordinat untuk mengembangkan diri terhambat karena posisi subordinatnya.
Perspektif dan Berbagai Konflik dalam Human Relations Approach:
• Para pakar yang meneliti tentang Human Relations Approach mengungkapkan bahwa Human Relations Approach khususnya memfokuskan pada kinerja kelompok, dan merupakan suatu kondisi dimana suatu hubungan berkembang dan berperan. (Conrad and Poole 2004)
• Melalui tekanan yang ada pada human relations approach, tidak heran apabila konflik merupakan perhatian yang cukup besar bagi para pakar human relations approach. Dari perhatian tersebut timbul berbagai sistem untuk mengidentifikasi berbagai
• Adapun Blake and Mouton (1964) dan Jay Hall (1969) yang mengidentifikasi
ASSERTIVENESS (KETEGASAN): menetapkan tingkah laku yang diharapkan demi memuaskan kepentingan bersama.
COOPERATIVENESS (KERJASAMA): menetapkan tingkah laku yang diharapkan demi memuaskan kepentingan individu yang lain.
Gabungan dari komponen di atas dijabarkan secara spesifik kedalam
1. A COMPETING (PERSAINGAN): Persaingan sangat tinggi unsur ketegasannya, namun sangat lemah pada unsur kerjasama. Dalam sebuah organisasi tentunya ada sebuah persaingan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam hal ini dijelaskan bahwa adanya sebuah hasrat untuk menundukkan yang lain, itulah yang biasa disebut sebagai pihak yang dominan dalam kelompok.
2. AN ACCOMMODATING (PENYESUAIAN): Penyesuaian berbanding terbalik dengan persaingan. Penyesuaian tidak bersifat tegas melainkan lebih menekankan pada kerjasama. Seseorang memberikan kesempatan pada yang lain untuk melaksanakan kepentingan mereka. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari suatu konflik yang merusak human relations.
3. AN AVOIDING (MENJAUHI): Tidak berada pada dua komponen di atas, baik ketegasan maupun kerjasama. Seseorang benar-benar menarik diri dan menolak untuk berurusan dengan konflik. Dalam hal ini seseorang dapat dideskripsikan sebagai pihak yang apatis, terisolasi, dan mengelak.
4. A COLLABORATING (BEKERJASAMA): Berada pada dua komponen di atas, yakni ketegasan dan kerjasama. Seseorang berusaha untuk mencapai sebuah solusi yang akan memenuhi kebutuhan kedua belah pihak. Bisa dikatakan
5. A COMPROMISING: Dalam
• Perspektif human relations juga dikritisi karena lebih menekankan pada resolusi dan pelenyapan pada suatu konflik. Hal ini serupa dengan paradoks pada awalnya karena teori human relations telah mengakui bahwa konflik dan tekanan merupakan peristiwa yang dianggap biasa.
• Seperti yang telah dicatat oleh Perrow (1986), teori-teori human relations menekankan pada pengaturan suatu hubungan (managing relationships) yang pada akhirnya menghasilkan suatu kerjasama dalam suatu organisasi.
• Dalam human relations approach, konflik dianggap sebagai hal yang tidak dapat terelakkan atau tidak dapat dihindari.
Apa Peranan Human Relations Approach Terhadap Sebuah Organisasi Fungsional?
• Dalam organisasi fungsional, kendali didelegasikan dari manajemen teratas ke berbagai varian departemen fungsional seperti bagian penjualan, keuangan, dan produksi.
• Menurut Miles and Creed (1995), organisasi fungsional berjalan dengan sangat baik melalui sebuah filosofi manajemen human relations. Filosofi ini mengasumsikan bahwa pekerja dimotivasi oleh sebuah dorongan sosial layaknya ada unsur ekonomi dan menekankan pentingnya interaksi yang informal saat bekerja dalam tim.
• Pengelola (manager) dalam hal ini memfokuskan pada kepuasan individu pekerja/karyawannya. Dengan memuaskan kebutuhan tiap individu pekerja/karyawannya, maka produktivitas dalam organisasi juga akan meningkat.
• Meskipun kendali tidak didelegasikan dari pegawai/karyawan bawahan, pengelola (manager) mencari masukan dari para pegawai tersebut, itu adalah sebagian besar cara untuk memuaskan kebutuhan anggotanya.
• Kompetensi komunikasi yang terjadi di dalam organisasi fungsional kemungkinan besar sangat berbeda dengan apa yang ada pada organisasi terpusat/tradisional, terutama asumsi yang berbeda mengenai manusia. Karena human relations approach menekankan pada kepuasan individu, pengelola (manager) dalam organisasi fungsional membutuhkan pengetahuan tidak hanya mengenai aturan relasi komunikasi secara formal dan peraturan dalam organisasi yang menuntuk mereka untuk menghormati tiap atasan, tetapi peneglola (manager) juga membutuhkan pengetahuan relasi komunikasi secara informal dan mengenal tiap karakter individu pegawai/karyawannya.
• Dalam human relations approach merekomendasikan pada tiap pengelola (manager) untuk menyadari kepribadian, informasi dan kebutuhan tiap-tiap anggota pegawainya (sehingga pagawai merasa ada umpan balik). Sesuai dengan yang diungkapkan di atas, pengelola (manager) yang berkompeten kemungkinan besar memiliki skill dalam hal empatik mengenai keluhan-keluhan pegawainya, memberikan umpan balik yang sekiranya mampu memotivasi kembali pegawainya (Cusella, 1987), menggunakan persuasi sebagai titik untuk memenuhi keuntungannya, dan berkomunikasi untuk terus mendukungnya.

SUMBER INFORMASI:
Katz, D. & Katz,R.L. (1978) The social psychology of organizational (2nd ed.) John Willey & Sons.
Schein, E.H. (1992) Organizational culture and leadership (2nd ed.) Jossey-Bass,
Folger, Joseph.P.,
http://www.blackwellreference.com/public/tocnode?id=g9780631233176_chunk_g978140511697811_ss1-16
Analisis Citra Media Dengan Perspektif Interpretatif
Media memiliki sumber acuan dalam menggambarkan berbagai citra, contohnya citra media terhadap feminisme, maskulin, kelas sosial, kenikmatan, manfaat, persahabatan, seksualitas, dan lain sebagainya. Lalu dari mana sumber acuan nilai konstruksi sosial media

Max Weber mengemukakan suatu kajian yang menjadi dasar dari perspektif Interpretatif. Kajian tersebut menyatakan bahwa penelitian sosial, ekonomi, dan sejarah tidak dapat selalu dilakukan secara empiris atau deskriptif, tapi harus menggunakan dan memperhitungkan konseptualnya. Analisa terhadap perspektif ini adalah, semua ilmu dan pembahasan yang ada tidak selalu dapat dijelaskan secara teoritis, sebab selalu ada pendapat-pendapat dan jalan pikiran yang berbeda dari tiap individu dalam menyikapi pembahasan tersebut. Jika pencitraan media A terhadap media B tentang suatu hal berbeda, itu semua tergantung pengalaman dan pengetahuan individu-individu dalam struktur media tersebut (Disarikan melalui INTERAKSIONISME SIMBOLIK (http://edsa.unsoed.net/?p=62) Artikel ini banyak membahas mengenai teori-teori Sosiologi Komunikasi, yang lengkap dengan pembahasannya). Contohnya; Media TPI memiliki sumber acuan bahwa budaya timur jauh lebih menarik untuk diangkat sebab produser TPI banyak yang menyukai budaya-budaya

Sebelumnya sudah dijelaskan, bahwa segala sesuatu yang akan diartikan selalu memiliki banyak arti karena pemikiran tiap-tiap orang selalu berbeda tergantung dari Frame of References dan Field of Experiences dari tiap individu (perspektif interpretatif). Maka dapat diterima apabila pengaruh pencitraan media itu akan berbeda-beda pula pada masyarakat (atau dalam hal ini audiens media). Sebagai contoh; Audiens yang memiliki pemikiran sederhana, ketika menonton sinetron di SCTV yang menyajikan citra orang kaya sebagai orang yang jahat akan menggeneralisasikan bahwa semua orang kaya pasti jahat.

Sedangkan pada audiens dengan pemikiran dewasa akan melakukan seleksi dari informasi yang ia terima, seperti misalnya ia akan berpikir, tidak semua orang kaya itu jahat, hanya orang-orang tertentu saja yang sedari kecil sudah menerima didikan yang salah.
Analisis media ini tentu memiliki pengaruh terhadap masyarakat dalam kehidupan sosialnya. Pengaruhnya juga berbeda-beda, kembali tergantung dari pemikiran dan pengetahuan tiap individu. Saat-saat ini Indosiar banyak menyajikan sinetron remaja yang menunjukkan gaya hidup orang kaya, sinetron ini juga banyak digemari, terbukti dari banyaknya ibu-ibu, remaja dan pembantu rumah tangga yang tiap pukul 19:00 selalu menonton sinetron di SCTV dan Indosiar (Disarikan melalui SINETRON INDOSIAR (http://www.kpi.go.id/index.php?etats=pengaduan&nid=3979)).

Namun ada juga yang tidak terpengaruh, tetap cuek, dan berpakaian sesuai dengan kebiasaannya sehari-hari. Ini semua kembali lagi sesuai dengan Perspektif Interpretatif, yaitu tergantung dari pemikiran dan pengetahuan tiap individu.
.
Contoh Media yang Membuat Definisi New Media Menjadi Kabur
Kalau mau mengambil contoh, saya akan memberikan 2 contoh media yang membuat kita bingung, manakah yang new media?
Pertama, buku jika dengan cepat dinilai, tentu mayoritas orang akan mengatakan buku adalah Old Media, tapi mari kita bahas buku yang sangat fenomenal, laris, diterjemahkan dan dibaca jutaan orang.
Contohnya Twilight Saga atau Harry Potter.


Buku-buku ini sangat digandrungi banyak orang, apakah ini termasuk Old Media? Sudah jelas secara waktu buku-buku ini baru ditulis dan dicetak, secara manfaat jelas mengubah culture masyarakat, dan secara produksi, tetu diketik di komputer dan dicetak memakan alat-alat percetakan canggih, tetapi secara distribusi, ini hanyalah sebuah buku… Seratus tahun yang lalu buku seperti ini juga banyak. Jadi?
Contoh kedua adalah Friendster.

Masih ingatkah anda dengan Social Network yang DULU sempat sangat booming di Indonesia ini? Hmmm… Kemanakah gaungnya sekarang? Apakah SEKARANG Friendster masih bisa disebut New Media?
Memang Friendster merupakan media digital, social-networking, tetapi sudah lama ditinggalkan orang dan tidak disentuh masyarakat. Secara produksi dan distribusi, Frendster bisa dikatakan New-Media, tetapi secara waktu dan manfaat, kini Friendster sudah dilupakan orang. Apakah bisa Friendster saat ini tetap disebut New Media?
Anda yang memilih.
.
Apa yang Membuat NEW MEDIA Sulit Untuk Didefinisikan?

Sulit untuk mendefinisikan new media disebabkan karena sulitnya menjelaskan apa variabel dari “new” itu. Mengatakan new media, bisa berarti berdasarkan WAKTU. Jadi semakin baru, semakin modern, semakin New Media.
Lalu bisa juga dilihat dari sisi MANFAAT, jadi semakin heboh di kalangan masyarakat, semakin mengubah culture / budaya, makin new media.
Kita tidak bisa mengatakan “kalau memakai komputer pasti new media!”, karena itu terlalu membatasi definisi new media itu sendiri. Komputer yang hanya sebuah mesin, tidak bisa menjadi pengukur sebuah media itu new media atau bukan.
New Media bisa dilihat dari sisi PRODUKSI, jadi kalau diproduksi dengan teknologi baru, itu menjadi new media. Dengan definisi ini, koran menjadi new media, sebab koran diproduksi engan komputer dan di desain dengan software-software modern.
New Media bisa dilihat dari sisi DISTRIBUSI, kalau hasilnya / packagingnya baru (secara digital misalnya) itu baru new media. Denan definisi ini, koran cetak menjadi old media, dan koran online baru new media.

Jadi, sebenarnya apa itu new media? Jelas pertanyaan ini akan sangat sulit dijawab, karena bisa dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya. Itulah yang membuat new media sangat sukar untuk didefinisikan.
.
June 30, 2010
BAB 4: Jika Kau Anakku, Kau Akan Ada di Surga
Tuhan memberkatimu, saudara-saudara. Ketika Tuhan meraih tanganku, aku dapat melihat bahwa aku sedang berdiri di atas batu, dan di belakang kami, aku melihat malaikat. Kami mulai bergerak turun melewati terowongan dalam kecepatan yang luar biasa. Dengan cepat aku berputar dan melihat malaikat itu telah hilang, dan aku merasa sangat ketakutan. Aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, dimana malaikat itu? Kenapa ia tidak disini lagi?” Tuhan berkata, “Ia tidak dapat ikut kemana kita akan pergi.”
Kami terus turun dan tiba-tiba berhenti dengan mendadak, seperti di dalam lift. Aku melihat beberapa terowongan dan kami memasuki salah satu terowongan, yaitu terowongan yang diceritakan oleh Sandra. Terowongan dimana orang-orang digantung dengan kait di kepala mereka, dengan rantai di lengan mereka. Dinding yang menjadi tempat penggantungan manusia itu seakan-akan sangat tinggi dan tidak berujung. Jutaan manusia digantung disana. Ulat-ulat memenuhi seluruh tubuh mereka. Aku melihat ke atas dan rupanya masih ada dinding-dinding lain, tiap dinding benar-benar persis. “Tuhan! Banyak sekali orang-orang di tempat ini!” Dalam sekejap, sebuah ayat memasuki pikiranku; ayat yang tidak pernah aku baca. Tuhan memberitahuku, “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas.” (Amsal 27:20)

Kami meninggalkan tempat itu dan tiba di tempat yang kami sebut LEMBAH KUALI. Kuali-kuali disini dipenuhi lumpur yang mendidih dan kami mendekati salah satunya. Orang pertama yang aku lihat adalah seorang wanita. Tubuhnya mengambang dan tenggelam dalam lumpur mendidih, tapi saat Tuhan melihatnya, ia berhenti bergerak dan tetap diam dalam lumpur yang setinggi pinggangnya. Tuhan bertanya, “Wanita, siapakah namamu?” Ia menjawab, “Namaku Rubiella.”
Rambutnya dipenuhi lumpur mendidih dan daging menggantung di tulang-tulangnya, yang telah gosong karena api. Ulat-ulat masuk melalui lubang di matanya, lalu keluar dari mulutnya dan masuk lagi lewat hidungnya dan keluar dari telinganya. Ketika ulat-ulat tidak dapat masuk, mereka dengan mudah membuat lubang untuk memasuki bagian tubuh yang lain, yang menyebabkan kesakitan yang tidak terkatakan.

Ia menjerit, “Tuhan, tolong! Keluarkan aku dari sini. Kasihanilah aku! Aku tidak dapat melanjutkan seperti ini lebih lama lagi! Buatlah berhenti, Tuhan! Aku tidak tahan lagi! Tolong kasihanlah aku!” Tuhan bertanya mengapa ia ada disana. Ia berkata bawa ia ada disana karena kesombongan, sesuai kata yang tertulis di piringan metal di dadanya. Di tangannya terdapat botol yang terlihat biasa, namun baginya itu adalah parfum yang sangat mahal. Rubiella harus mengambil botol itu, yang penuh dengan air keras, dan menyemprotkannya di sekujur tubuhnya. Ini menyebabkan semua daging yang tersemprot meleleh, menyebabkan ia sangat kesakitan.
Ia menjerit kepada Tuhan, “Tuhan, kumohon kasihanilah aku! Aku tidak bisa disini lebih lama lagi! Hanya satu detik, Tuhan!”. Aku tidak mengatakan bahwa menggunakan parfum adalah dosa, namun Tuhan memberitahu kami bahwa wanita itu ada di neraka karena parfumnya, seperti kata-kata Tuhan dalam Ulangan 5:7, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Wanita itu ada di neraka karena kecantikannya, parfum-parfumnya, dan kotak-kotak perhiasannya adalah yang terutama di dalam hidupnya. Bagaimanapun, Tuhan Yesus adalah Raja atas segala raja dan Allah atas segala allah! Ia harus menjadi yang utama di hidupmu; itulah mengapa wanita itu di neraka. Dengan kesedihan, Tuhan melihat wanita itu dan berkata,”Rubiella, sudah terlambat untukmu, ulat-ulat akan menjadi ranjangmu, dan ulat-ulat akan menutupimu.” Ketika Tuhan mengatakan itu, selimut api menutupinya dengan sempurna. Selama tubuhnya dihabiskan di dalam kuali, ia menderita kesakitan yang sangat parah.
Kami lalu pergi jauh dan tiba di suatu tempat dengan pintu-pintu raksasa. Ketika kami mendekatinya, pintu-pintu itu terbuka bagi kami. Di dalam kami melihat gua besar. Waktu aku melihat ke atas, aku melihat cahaya-cahaya berwarna yang bervariasi bergerak seperti asap awan. Tiba-tiba; kami mendengar musik; salsa, musik balet, rock, dan aneka macam musik populer yang didengar orang-orang di radio. Tuhan membuat gerakan dengan tanganNya, dan kami melihat jutaan dan jutaan manusia digantung dengan rantai pada tangan mereka. Mereka semua melompat-lompat dengan liar di dalam api.

Tuhan melihat kami dan berkata, “Lihat, ini adalah upah para penari”. Mereka harus melompat gila-gilaan mengikuti irama musik. Jika musik salsa dimainkan, mereka harus melompat sesuai irama, jika segala macam musik dimainkan, mereka harus melompat sesuai irama. Mereka tidak pernah bisa berhenti melompat. Namun jauh lebih buruk dari itu, sepatu mereka memiliki jarum-jarum sepanjang 6 inci. Kapanpun mereka melompat, jarum-jarum itu akan menusuk kaki mereka, dan mereka tidak memiliki saat untuk beristirahat. Ketika seseorang mencoba berhenti, iblis-iblis akan muncul serentak dan menusuk mereka dengan tombak, mengutuki mereka dan berkata, “Sembah dia! Ini adalah kerajaanmu sekarang, sembah setan! Sembah dia! Kau tidak bisa berhenti, sembah dia! Sembah dia! Kau harus menyembahnya! Kamu harus lompat! Kamu harus menari! Kamu tidak bisa berhenti sedetikpun!”
Sungguh sangat mengerikan bahwa banyak di antara orang-orang itu adalah orang Krsten yang pernah mengenal Tuhan, namun mereka ada di klub-klub malam saat mereka meninggal. Mungkin kau bertanya, “Dimana dikatakan di Alkitab bahwa menari itu salah?” Dalam Yakobus 4:4 firman Tuhan berkata: “Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Juga dalam 1 Yohanes 2:15-17, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Ingatlah bahwa dunia akan berakhir, semua ini akan lenyap, namun siapapun yang melakukan kehendak Allah akan hidup selamanya.
Temanku dan saudaraku, ketika kami meninggalkan tempat ini, kami melihat sesuatu seperti jembatan yang memisahkan bagian neraka ini dengan bagian siksaan yang lain. Kami melihat roh yang berjalan melintasi jembatan. Roh itu tampak seperti boneka yang kita lihat di bumi; kita menyebutnya Treasure Trolls. Mereka memiliki warna rambut yang berbeda-beda, dengan wajah lelaki tua tapi dengan tubuh anak-anak; tanpa organ seksual. Mata mereka dipenuhi kejahatan. Tuhan menjelaskan bahwa mereka adalah roh kerugian. Roh-roh itu memiliki tombak di tangannya dan berjalan dengan bangganya di atas jembatan, seakan-akan mereka adalah raja.

Ketika ia berjalan, ia akan menusuk orang-orang di bawah jembatan dengan tombaknya. Ia akan mengutuki mereka dengan berkata, “Ingatkah kalian akan hari ketika kalian di luar gereja Kristen dan kalian tidak mau masuk ke dalam? Ingatkah kalian pada hari ketika mereka berkhotbah padamu dan kalian tidak mau medengar? Ingatkah kalian akan hari ketika mereka memberimu lembar warta dan kalian membuangnya?” Jiwa-jiwa yang terhilang akan mencoba menutupi letak telinga mereka seharusnya berada. Mereka akan menjawab roh itu, “Diam! Diam! Jangan beritahu aku lagi! Aku tidak mau tahu lagi, diamlah!” Bagaimanapun, roh jahat itu menikmati melakukannya karena kesakitan yang bisa ditimbulkannya pada jiwa-jiwa tersebut.
Kami melanjutkan berjalan bersama Tuhan. Saat kami melihat masa di sekitar kami, kami memperhatikan seorang pria yang menjerit lebih keras dibandingkan yang lain yang terbakar di dalam api. Ia menjerit, “Bapa, Bapa, kasihanilah aku!” Tuhan tidak berniat berhenti untuk melihat pria tersebut, namun ketika kata ‘Bapa’ didengarNya, Ia berhenti dan berputar. Yesus melihatnya dan berkata, “Bapa? Kau memanggilKu Bapa? Bukan, aku bukan bapamu, dan kau bukan anakku. Jika kau anakku, kamu sekarang akan ada bersamaKu di Kerajaan Surga. Kau adalah anak dari bapamu, si iblis.” Dengan segera selimut api naik dan menutupi seluruh tubuh pria itu.
Tuhan menceritakan kepada kami kisah pria tersebut. Pria itu memanggilNya Bapa karena ia pernah mengenalNya. Ia biasa pergi ke gereja dan mendengarkan Tuhan melalui firmanNya, dan ia banyak memperoleh janji dari Tuhan. Maka kami bertanya, “Apa yang terjadi Tuhan? Lalu mengapa ia ada disini?” Tuhan menjawab, “Ia memiliki kehidupan ganda; ia hidup dengan satu cara di rumah, dan cara yang berbeda di gereja. Ia berpikir dalam hatinya, ‘Yah, tidak ada seorangpun yang hidup dekat denganku, tidak seorang pastur ataupun saudara lain, maka aku bebas melakukan apapun yang aku mau.’ Namun ia lupa bahwa mata Tuhan selalu mengamati semua jalan manusia dan tak ada seorangpun dapat berbohong atau bersembunyi dari Tuhan.”
Firman Tuhan memberitahu kami, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (
Hari-hari ini, orang-orang banyak yang membuat tingkatan-tingkatan dosa; mereka berpikir bahwa homoseksual, pencuri, dan pembunuh adalah dosa yang jauh lebih besar dibanding pembohong atau penggosip. Namun di mata Tuhan, semua dosa ini memiliki beban yang sama dan harga yang sama. Alkitab membertahu kita, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya.” (Yehezkiel 18:20) dan “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23).
Teman dan saudaraku, aku mengundangmu sekarang untuk menerima undangan Yesus. Yesus mengulurkan tanganNya yang penuh belas kasih jika kau bertobat dan mengakui dosamu. Firman Tuhan memberitahu kita bahwa mereka yang merubah jalan hidupnya dan bertobat akan diberi belas kasih. Jauh lebih baik percaya saat ini, daripada terus menunggu dan menemukan kenyataan yang pahit nanti saat segalanya terlambat. Tuhan memberkatimu.
TO BE CONTINUED...
.
