Powered By Blogger

September 19, 2009

SHATTERED GLASS: Melalui Perspektif Jurnalistik



Shattered Glass adalah sebuah film yang bercerita mengenai seorang jurnalis muda yang bekerja di suatu majalah terkemuka di New York, New Republic. New Republic sangat terkenal, sejak pertama kali berdiri tahun 1914, New Republic telah menjalankan fungsi jurnalistiknya dengan baik. Film ini menceritakan keadaan New Republic di tahun 1998. Pada saat itu, New Republic memiliki 15 jurnalis dan seorang editor yang sangat baik dan bertanggung jawab bernama Michael Kelly.


Tokoh utama film ini adalah Stephen Glass yang diperankan dengan apik oleh Hayden Christensen. Lewat perannya ini, ia menjalankan peran sebagai seorang jurnalistik cerdas, yang baru bekerja untuk New Republic. Awalnya ia terlihat menjalankan pekerjaan dengan baik, namun konflik dimulai sejak editornya, Michael Kelly diganti dengan jurnalis lain yang dianggap kurang kompeten, Chuck Lane.


Menjadi wartawan di new Republic sangatlah sibuk, gajinya kecil, jadwal ketat, namun Stephen Glass sangat menikmatinya karena ia senang jika membayangkan tulisannya akan dibaca oleh orang-orang terkenal, contohnya Presiden. Kesenangan Stephen Glass ini tidak dijalankan secara seimbang. Ia asal menulis, demi popularitas, terkadang ia mengarang suatu kejadian, bahkan beberapa berita yang ia tulis merupakan satu kebohongan. Pada akhir film, akhirnya terkuak bahwa selama ini Stephen Glass adalah seorang jurnalis yang tidak menulis berdasarkan kebenaran.


Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari Stephen Glass. Kini ia menjadi seorang novelis, dan salah satu buku karangannya adalah The Fabulist, yang menceritakan pengalamannya sendiri sebagai seorang jurnalis yang menulis suatu kebohongan demi popularitas. Lewat pengalaman nyata inilah kita dapat memetik pelajaran, bahwa seorang jurnalis harus menyampaikan kebenaran, dan agar pembaca dapat tahu bahwa berita yang ditulis itu adalah suatu kenyataan, paling bagus adalah mencantumkan foto agar pembaca dapat melihat kejadian sebenarnya.




ANALISA FILM SHATTERED GLASS

DIKAITKAN DENGAN KODE ETIK WARTAWAN INDONESIA


Dalam buku Ragam Jurnalistik Baru Dalam Pemberitaan oleh Eni Setiati, dijelaskan mengenai tujuh butir Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) secara jelas. Berikut analisisnya dikaitkan dengan film Shattered Glass:


1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar:


Masyarakat perlu diberi informasi yang sifatnya faktual dan jelas sumbernya. Stephen Glass dalam film ini telah melanggar KEWI pertama ini. Ia tidak menjelaskan fakta, ia memberikan berita yang tidak jelas sumbernya, dan belum jelas kebenarannya.


2. Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber informasi:


Stephen Glass memperoleh informasinya tidak berdasarkan tata cara yang etis, karena beberapa beritanya merupakan berita yang ia karang sendiri, bahkan beberapa sumber beritanya juga merupakan sumber berita karangannya sendiri.


3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat:


Wartawan sebaiknya, dalam melaporkan dan menyiarkan informasi perlu meneliti kembali kebenaran informasi. Stephen Glass tidak meneliti kembali informasi yang ia peroleh. Beberapa informasi yang ia dengar dari mulut ke mulut bisa ia kembangkan sendiri menjadi suatu berita yang sifatnya palsu, karena tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.


4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila:


Dalam film Shattered Glass, wartawan-wartawan new Republic telah berusaha menjalankan fungsi ini sebaik mungkin. Sayangnya Stephen Glass sebagai wartawan telah melanggarnya. Ia telah menyiarkan informasi yang bersifat dusta.


5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi:


Wartawan Indonesia selalu menjaga kehormatan profesi dengan tidak menerima imbalan dalam bentuk apapun dari sumber berita, yang berkaitan dengan tugas-tugaskewartawanannya, dan tidak menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Stephen Glass sebagai jurnalis New Republic bersikap tidak loyal terhadap New Republic. Ia memanfaatkan popularitasnya demi kepentingannya sendiri, yaitu makin meningkatkan popularitasnya dengan menjual artikel kepada majalah-majalah lain. Bahkan Stephen Glass mengaku pernah menjual artikel yang sifatnya bohong kepada majalah Rolling Stones.


6. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan:


Wartawan Indonesia melindungi narasumber yang tidak bersedia disebut nama dan identitasnya. Berdasarkan kesepakatan, kalau narasumber meminta informasi yang diberikan untuk ditunda pemuatannya, harus dihargai. Dalam film Shattered Glass, tidak diceritakan mengenai hal ini. Stephen Glass tidak diperlihatkan dalam posisi sebagai wartawan yang diminta menunda suatu berita.


7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab:


Stephen Glass sangat melanggar KEWI terakhir ini. Bagaimana mungkin Stephen Glass mencabut dan meralat kekeliruan dalam beritanya jika ia dengan sengaja memasukkan berita yang sifatnya palsu ke dalam majalah New Republic? Bahkan ketika majalah Forbes sebagai publik bertanya mengenai keakuratan berita “Hack Heaven” yang dibuat Stephen Glass, Stephen melayani hak jawab tersebut dengan jawaban-jawaban palsu, yang ia karang sendiri, akibatnya Stephen Glass terpaksa berbohong semakin banyak demi menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya.




ANALISA 9 ELEMEN JURNALISME

DIKAITKAN DENGAN FILM SHATTERED GLASS



1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran:


Stephen Glass sebagai tokoh utama film Shattered Glass telah melanggar prinsip utama dari elemen jurnalisme. Berita yang ia sampaikan pada masyarakat tidak didasarkan pada kebenaran. Tiap berita yang ia angkat selelu memiliki suatu kebohongan, bahkan ada berita yang keseluruhan isinya merupakan karangannya sendiri.


2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat:


Isi berita yang benar tidak boleh memihak pada suatu organisasi, jadi media harus dapat mengatakan dan menjamin kepada audiences-nya bahwa liputan itu tidak diarahkan demi kawan dan pemasang iklan. Media wajib memelihara kesetiaan kepada warga masyarakat dan kepentingan publik yang lebih luas di atas yang lainnya. Stephen Glass banyak mengarang informasi yang ia masukkan pada beritanya, dan ini merupakan bukti bahwa ia sebagai jurnalis New Republic tidak mengutamakan kepentingan masyarakat, ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri, asal membuat suatu berita yang menarik demi mengangkat popularitasnya.


3. Inti jurnalisme adalah disiplin untuk melakukan verifikasi:


Dalam mencari informasi, seorang wartawan harus bekerja secara profesional, memakai metode disiplin profesional untuk memverifikasikan informasi. Jadi wartawan perlu mencari berbagai saksi, menyingkap sebanyak mungkin sumber, atau bertanya pada berbagai pihak untuk komentar, demi mengisyaratkan adanya standar yang profesional. Dalam film Shattered Glass, Stephen Glass telah membuat banyak berita yang ditulis tidak berdasarkan sumber manapun. Ia tidak bekerja dengan professional, hanya memanfaatkan pikiran dan intuisinya saja. Stephen Glass merasa pikirannya sudah cukup cerdas untuk membuat suatu berita yang menarik, menghibur, dan layak dibaca masyarakat tanpa peduli pada kenyataan yang sebenarnya. Ia tidak mencari saksi, tidak menyingkap berbagai sumber, dan bekerja sendiri tanpa bertanya pada berbagai pihak untuk komentar.


4. Para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput:


Kebebasan adalah syarat dasar dari jurnalisme. Ia menjadi sebuah landasan dari kepercayaan. Namun apabila kebebasan tersebut tidak dijalankan dengan seimbang bersama kejujuran, maka kepercayaan itu tidak akan muncul. Stephen Glass sangat memegang prinsip kebebasan ini, namun bukan kebebasan dari sumber yang ia liput. Bahkan dalam beberapa beritanya, ia tidak memiliki sumber sama sekali. Stephen Glass membuat beritanya dari campuran informasi-informasi sepenggal yang ia peroleh dari mulut ke mulut dan kemampuannya untuk berimajinasi. Ia begitu lihai dalam mengarang cerita, ia membuat berita demi popularitas, demi rasa puas apabila pembaca menikmati tulisannya. Akhirnya prinsip kebebasan ini diartikan berbeda oleh Stephen Glass. Ia benar-benar bebas dalam menuliskan informasi untuk New Republic. Ia merasa berhak untuk bebas bereksperimen, mencampuradukkan fakta dengan dunia khayalannya, ia merasa memiliki kebebasan total sebagai seorang wartawan terhadap sumbernya, entah sumber itu benar-benar ada atau hanya majinasi.


5. Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan:


Wartawan bertugas sebagai orang yang memantau keadaan sekitarnya, baik dari segi sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Tugas mulia ini tidak boleh dibatasi oleh kekuasaan. Misalnya wartawan suatu majalah mengekspos kasus kejahatan Pesiden yang pada kenyataannya benar-benar terjadi, maka kekuasan Presiden tersebut tidak boleh ia manfaatkan untuk menghancurkan organisasi majalah tersebut, karena memang tugas wartawan adalah sebagai pemantau yang bebas.


Stephen Glass dalam film ini telah menjalankan tugasnya sebagai pemantau yang bebas, bahkan mungkin terlalu bebas. Ia memantau sekitarnya tanpa melihat batas kebebasan, ia telah melanggarnya. Stephen Glass menuliskan apapun yang tidak ada pada kenyataan, mengarang keseluruhan berita agar tidak ada pihak yang protes. Untuk apa protes kalau berita yang ditulis tidak berhubungan dengan seseorang yang benar-benar nyata? Tidak ada yang menjadi korban dari tulisan Stephen, tidak ada yang dirusak nama baiknya, sebab orang yang Stephen tulis tidak benar-benar ada. Akibatnya tugas Stephen sebagai wartawan yang seharusnya memantau dengan bebas tidak berhasil ia jalankan, sebab ia hanya memantau sesuatu yang tidak pernah ada.


6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik:


Oranisasi New Republic telah menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik. Dalam hal ini, Majalah Forbes yang mempertanyakan tentang kebenaran informasi “Hack Heaven” yang ditulis oleh Stephen Glass adalah termasuk publik. Dalam menanggapi pertanyaan dari pihak Forbes, Chuck Lane sebagai editor New Republic telah merespon dengan sangat baik dan penuh tanggung jawab. Pada akhir film, saat Chuck Lane benar-benar menyadari kesalahan jurnalisnya, ia tidak berusaha menutup-nutupi atau menambah kebohongan pada Forbes, ia dengan berani memecat wartawannya itu, walau dengan resiko, wartawan-wartawan lain yang menyukai Stephen Glass akan marah dan mengundurkan diri.


Disini kita bisa melihat, bahwa forum untuk kritik dan komentar publik sangatlah bermanfaat demi mengungkap suatu kebenaran. Film Shattered Glass ini telah menunjukkan bagaimana forum ini sangat berguna, sehingga pada akhirnya New Republic harus mengakui, bahwa Forbes benar dan teliti, dan New Republic telah melakukan kesalahan besar karena selama ini telah mengeluarkan berita-berita yang tidak benar melalui kesalahan wartawannya, Stephen Glass.


7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan:


Demi menjaga loyalitas pembaca pada media yang mereka baca, suatu media harus bisa membuat informasi yang penting menjadi menarik untuk dibaca, dengan tujuan mencerahkan para pembacanya. Jika suatu informasi yang penting ditulis tanpa ada hal yang menarik di dalamnya, otomatis informasi tersebut tidak akan diterima dengan baik oleh pembacanya.


Sephen Glass sangat lihai dalam membuat suatu berita menjadi menarik dan relevan, namun sayangnya, berita-berita yang ia buat menarik itu bukanlah berita-berita yang penting. Dan yang lebih riskan, beberapa di antara berita-berita tersebut adalah suatu karangan / miss representasi. Akibatnya berita itu hanya dibaca, menarik hati si pembaca, namun pada akhirnya berita itu tidak akan mencerahkan pikiran pembaca sama sekali, sebab berita itu tidaklah nyata.


8. Wartawan harus menjaga agar berita itu proporsional dan komprehensif:


Prinsip di sini adalah “jurnalisme adalah suatu bentuk dari kartografi”. Ia menciptakan sebuah peta bagi warga masyarakat guna menentukan arah kehidupan. Apabila berita itu tidak proporsional, hal-hal yang penting dihilangkan, demi sensasi menggelembungkan suatu peristiwa, mengabaikan sisi-sisi lain, stereotip atau bersikap negatif secara tidak imbang, akan membuat peta menjadi kurang dapat diandalkan.


Dalam film Shattered Glass, Stephen Glass sebagai seorang wartawan telah mengacaukan peta tersebut. Hal-hal yang penting sangat ia minimalkan, kemudian ia menggelembungkan informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya demi sensasi. Contohnya dalam kasus “Hack Heaven”, Stephen hanya mendengar sekilas saja mengenai kasus tersebut, bisa saja itu hanya bualan seseorang. Namun karena ia meganggapnya menarik dan dapat memunculkan sensasi, Stephen dengan cepat mengembangkan khayalannya tentang informasi itu, kemudian menuliskannya untuk majalah New republic. Akibatnya, pembaca dapat disesatkan pikirannya, peta informasi yang mereka peroleh sangat salah, sangat tidak seimbang, dan sangat tidak nyata.


9. Wartawan itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya:


Setiap wartawan harus memiliki rasa etik dan tanggung jawab. Apabila seorang wartawan tahu ada suatu informasi yang tidak beres, ia harus berani menyuarakan perbedaan pendapat dengan rekan-rekannya.


Di dalam film Shattered Glass, ada banyak wartawan yang tidak berani menyuarakan suara hatinya. Di akhir film, Caitlin Avey yang protes kepada Chuck Lane karena telah memecat Stephen Glass, sebenarnya telah mengetahui kalau selama ini berita-berita yang ditulis Stephen Glass adalah suatu kebohongan. Namun karena ia berteman dekat dengan Stephen Glass, ia tidak berani mengoreksi Stephen. Ia terus membenarkan berita-berita Stephen dan membiarkannya dimuat di majalah New Republic. Namun pada akhirnya ia menghormati keputusan Chuck Lane sebagai editor, dan menerima pemecatan Stephen Glass dengan sportif.





I found this articles will useful for some of you

that start learning about Journalistic..^^



September 18, 2009

Perbedaan Antara Sosiologi dengan Antropologi

.
.

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitan pada pendudukyang merupakan masyarakat tunggal.



Sedangkan sosiologi, walaupun hampir sama dengan antropologi, namun kedua ilmu ini memiliki perbedaan. Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.


Dari pengertian tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa sosiologi mempelajari masyarakat sebagai satu kesatuan. Baik itu sistem, interaksi, kekuasaan, mata pencaharian, karakter kelompok, dan lain sebagainya. Sedangkan antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari individu sebagai bagian masyarakat, bagaimana individu-individu tersebut memiliki peran dan berperan dalam masyarakat.


Learn Something From This?

September 16, 2009

Mempelajari Sejarah Arek-Arek Suroboyo Melalui Museum 10 November

.
.


SURABAYA
, 9/9/2009. Monumen Tugu Pahlawan yang terletak di Surabaya merupakan salah satu tempat dimana bangsa Indonesia, terutama masyarakat Surabaya sendiri, dapat mempelajari perjuangan para pejuang pada masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang. Pada tanggal 9 September 2009, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Kristen Petra berkunjung ke Tugu Pahlawan untuk mengobservasi sekaligus mewawancara orang-orang yang memiliki hubungan dengan Tugu Pahlawan.



Berbicara tentang Tugu Pahlawan, tentu saja ada 2 museum besar yang patut diperhatikan, yaitu Museum Tugu Pahlawan dan Museum 10 November. Dibangun dengan ketinggian 7 meter di atas permukaan tanah, Masyarakat tidak menyadari bahwa ada museum di Tugu Pahlawan, “Sebelum SMA saya tidak pernah tahu ada museum Tugu Pahlawan. Saya mulai tahu tentang museum ini dimulai dari SMA dulu waktu saya dapat tugas dari sekolah untuk mengobservasi tempat ini dan untuk menulis tugas-tugas yang diberikan.” Ujar Ricky Tanudjaja (19) yang sedari kecil sudah tinggal di Surabaya. Pendapat yang sama juga diucapkan oleh Klarensius Ade Rianto (19), pengunjung dari Museum 10 November, ia berkata, “Saya asli orang Surabaya, tinggal di Pondok Chandra. Saya masih baru pertama kali, sebelumnya saya belum pernah ke Tugu Pahlawan.”


Melalui opini tersebut, dapat dilihat adanya kekurangan dalam proses sosialisasi Tugu Pahlawan, padahal museum 10 November yang terletak di dalam Tugu Pahlawan memiliki hal-hal menarik untuk diamati. “Yang menarik dari sini adalah peninggalan-peninggalan yang terkesan kuno dan kental dengan sua
sana Kemerdekaan.” Ujar Leon (19) sebagai pengunjung dari Museum 10 November, Ria Vinesha Wibisono (18) sesama pengunjung museum juga berkata, “Yang menarik bagi saya adalah senjata-senjatanya disini yang sangat lengkap dan sangat tua sekali, karena saya tidak pernah melihat senjata-senjata setua ini, terutama yang di bagian bazooka di situ…"


Selain menarik, pengunjung Museum 10 November juga dapat belajar banyak hal disini, seperti diucapkan oleh Livita Wijaya (18), ”Saya jadi lebih mengetahui tentang Surabaya karena disini juga ada penjelasan tentang awalnya Surabaya, jadi bisa lebih tahu tentang sejarah-sejarah”. Pendapat berbeda diucapkan oleh Leon, “ Saya mempelajari usaha Bangsa Indonesia pada w
aktu memperebutkan kemerdekaan, cerita-cerita tentang kemerdekaan, dan peninggalan-peninggalan sejarahnya.” Dengan lebih spesifik lagi, Ricky Tanudjaja menjelaskan, “Kalau saya bilang, dari semuanya itu kita bisa melihat pengorbanan arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan bangsa Indonesia. Ya, dulu senjatanya kan masih bambu runcing, jadi kita bisa lihat itu sebagai suatu perjuangan. Bambu runcing melawan senjata-senjata dari Belanda."


Pengunjung Tugu Pahlawan sendiri selain belajar banyak, juga antusias terhadap benda-benda bersejarah di museum. “Banyak yang menarik, yang paling saya suka adalah foto-foto di museum. Saya suka ini karena saya jadi teringat waktu pahlawan kita ini susah memperjuangkan kemerdekaan untuk bebas dari penjajahan Belanda.”
Ujar Klarensius Ade Rianto ketika ditanya perihal hal paling menarik dari museum. Selain itu, pengunjung banyak yang menggemari senjata-senjata dari masa perang, seperti yang diucapkan Livita Wijaya dan Ria Vinesha, ”Ada yang paling menarik bagi saya, yaitu senjatanya. Karena senjatanya jarang kita temui, jadi saya baru tahu ya dari sini. Selain senjata saya juga suka patung bertuliskan ’Merdeka Atau Mati’.” Monumen-monumen juga sangat menarik untuk diamati, ”Kalau saya bilang Monumen dari Hotel Yamato yang paling menarik. Itu yang sekarang adalah Hotel Majapahit, karena disana bangsa-bangsa Indonesia mau mempertahankan benderanya sehingga Ia melawan sekutu dengan merobek bendera Belanda dan diganti dengan bendera Indonesia.” ujar Ricky Tanudjaja perihal hal paling menarik dari museum 10 November.


Lewat kunjungan pada tanggal 9 September 2009 ini, para mahasiswa dan pengunjung mengaku suka melihat-lihat isi museum dan berniat untuk kembali datang ke museum di waktu mendatang. ”Saya suka, lain kali boleh saya datang lagi ke sini.”ujar Klarensius, pernyataan yang sama juga diuc
apkan oleh Leon, ”Oh, tentu. Lain kali saya akan datang lagi.”


Melalui kunjungan ini, banyak hal diamati dan dipelajari, banyak hal bisa menarik hati para pengun
jung. Tentunya di era modern ini kita juga harus meneruskan perjuangan para Pahlawan untuk menyukseskan pembangunan Nasional, seperti yang diutarakan Klarensius Ade Rianto, ”Kita yang hidup sekarang bisa berjuang dengan belajar banyak dan tidak malas, dan kedua kita mempertahankan inventaris kita, seperti museum ini. Jadi orang-orang, masyarakat Indonesia ini bisa ingat, dulu betapa susahnya penderitaan di Indonesia ini.”


September 11, 2009

The Story About Successful and Unsuccessful Marriage

.

.

Kisah Pernikahan Sukses



Seorang wanita bernama Marry Cornezzi memiliki suatu kisah pernikahan yang sukses. Beliau menikah pada usia 19 tahun, dan sebelumnya belum mengenal sang suami. Orang tuanya menikahkan Marry karena masalah ekonomi, dan Marry menikah dengan seorang pria yang usaianya jauh lebih tua 15 tahun.


Pada awal masa pernikahannya, Marry adalah seorang wanita yang sering disiksa oleh suaminya, ia sama sekali tidak mencintai suaminya, bahkan ia membencinya. Namun suatu hari, sang suami terjatuh dari tangga dan menderita kelumpuhan sementara, sehingga apa yang bisa ia lakukan hanya makan dan tidur. Marry sebagai seorang istri yang menganut prinsip kristiani tentu tidak bisa meninggalkan suaminya. Ia terpaksa merawat sang suami yang sangat sering mengeluh, entah itu masakannya yang terlalu panas, yang rasanya hambar, tentang pelayanan Marry yang buruk, dan lain sebagainya.


Marry sangat marah pada suaminya, namun ia berdoa memohon kesabaran pada Tuhan. Akhirnya suatu hari saat suaminya mengkritiknya, Marry benar-benar tidak tahan dan berkata pada suaminy, “ Aku sudah berusaha melayanimu sampai kamu membaik, kalau kau tidak puas, biar

orang lain saja yang melayanimu!” Mendengar pernyataan tegas ini, sang suami hanya terdiam dan menyelesaikan makannya dalam diam.


Untuk hari-hari selanjutnya, tiba-tiba saja suaminya tidak mengkritik semua pekerjaan Marry. Mereka bahkan mulai bercakap-cakap seperti seorang teman. Hingga akhirnya sang suami meminta maaf dan berterima kasih pada ketahanan Marry akan segala kejahatannya selama ini. Marry begitu terharu, dan akhirnya ketika sang suami sembuh, sang suami telah berubah, lebih mengenal Marry dan lebih menghargainya. Mereka dikaruniai 3 orang anak, dan saling mencintai, dan selalu berkomunikasi secara jujur dan terbuka.






Kisah Pernikahan Gagal






Pernikahan Gagal, Pink Salahkan Jadwal. Kesibukan jadi kerap jadi pembawa masalah. Pink juga menyalahkan kesibukan sebagai penyebab kegagalan rumahtangganya. Penyanyi ini mengaku merasa muak harus terus menerus menyesuaikan waktu dengan mantan suaminya, Carey Hart.


Pasangan ini mengakhiri pernikahan dua tahun mereka pada Februari lalu. Dan Pink bersikukuh kalau dia masih mencintai mantan suaminya ini. Namun jadwal yang sama-sama sibuk membuat mereka memutuskan menjalani kehidupan sendiri-sendiri.


"Memang kedengaran klise saat Anda berbicara tentang perceraian Hollywood. Tapi mengatur jadwal itu memang berat. Dan nampaknya seseorang selalu harus membayarnya. Aku capek jadi wanita pengatur jadwal," ungkap penyanyi bernama asli Alecia Moore.

September 10, 2009

"Deliver Us From Evil" Melalui Perspektif Etika Kristiani


Deliver Us From Evil merupakan sebuah film yang menceritakan tentang Pastor O’Grady yang adalah seorang Pedofilia dan telah melecehkan banyak anak secara seksual. Banyak korban yang akhirnya berakhir menjadi atheis, disebabkan banyak keluarga yang terheran-heran, bagaimana bisa seorang Hamba Tuhan melakukan dosa seperti itu.


Yang sangat meresahkan adalah bagaimana pihak gereja menyikapi perilaku Pastor O’Grady.


Di dalam film ini diperlihatkan ada semacam kesan melindungi sesama kolega ketimbang menghukum yang bersalah dan melindungi umat dari seorang pastor yang tidak bermoral ini. Pastor O’Grady akhirnya didakwa 14 tahun penjara, dan dibebaskan bersyarat setelah menjalani hukuman 7 tahun, dan sesudah itu dideportasi ke Irlandia, dan hidup dengan damai sampai saat ini. Sungguh sangat mengesalkan melihat keadaan Pastor O’Grady saat ini, dimana beliau tidak tampak menunjukkan rasa penyesalan sedikit-pun, bahkan tampak tertawa-tawa saat menceritakan dosa-dosanya yang keji.


Bagaimana pendapat saya mengenai Pastor O’Grady?


Pastor O’Grady adalah seseorang yang sangat kejam jika kita tidak melihat masa lalunya. Namun apabila kita melihat masa lalunya, dimana ia juga pernah dilecehkan secara seksual oleh pendetanya dan kakak laki-lakinya, tentu sikapnya yang menyimpang ini disebabkan faktor psikologis. Lagipula ia telah belajar menjadi seorang pastor dari usia 15 tahun, dimana hormon seks seorang remaja itu baru berkembang. Apabila di usia tersebut ia dilarang bersosialisasi secara normal, maka tidaklah mustahil perilaku seks-nya menjadi menyimpang.


Namun walau begitu, sebagai seorang Hamba Tuhan yang dipercaya banyak keluarga, tindakannya itu sangatlah kejam. Itu dosa besar dan yang sangat mengganggu saya adalah raut wajahnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Tindakannya itu bagi saya tidak berbeda dengan tindakan para psikopat yang melukai korbannya tanpa merasa menyesal sedikit-pun.



Pendapat saya mengenai korban pelecehan seksual:


Bagi saya, sungguh malang nasib mereka semua. Mereka hanyalah korban, dan mereka masih sangat muda. Itu pasti akan mengguncang mereka secara psikologis. Tidaklah heran apabila pada akhirna mereka memiliki masalah sosial saat dewasa karena pernah diberi pengalaman traumatis seperti itu.


Saya hanya dapat mengharap agar para korban itu dapat melanjutkan hidup dengan normal selayaknya orang-orang lain. Saya sangat mengerti sikap mereka yang tidak ingin mengakui kejadian itu kepada keluaga mereka, sebab pasti ada rasa malu dan ketakutan yang teramat sangat, terutama apabila mereka diancam, dan keluarga mereka berteman akrab dengan sang Pastor O’Grady. Pasti sebagai korban, ada rasa takut jika sudah bercerita, lalu tidak dipercaya dengan alasan ia adalah seorang Hamba Tuhan yang taat.


Kini setelah aib itu telah terbuka, semoga hal ini dapat melegakan para korban, dan akhirnya dapat menolong mereka semua dalam menghadapi hidup.


Pendapat saya mengenai keluarga korban:


Bagi saya, keluarga korban sangatlah kasihan, tidak jauh berbeda dengan derita si korban, Dimana kini mereka dipermalukan dan memiliki amarah yang sangat besar. Mereka tampak amat terguncang. Guncangan jiwa mereka diperlihat kan dengan jelas di dalam film ini. Beberapa dari mereka menjadi ateis, karena tidak percaya bagaimana bisa seorang yang menjadi hamba Tuhan malah menghancurkan hidup anak mereka, dan otomatis seluruh hidup keluarga mereka.


Namun sebenarnya, mereka perlu lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan malah menjauhinya. Saya rasa itu merupakan respon yang tidak benar. Itulah tujuan iblis mengadakan Pedofilia di dunia ini, agar umat-umat Kristiani dikejutkan dan terluka, agar menjauh dari Tuhan. Apabila mereka berubah menjadi Ateis, saya rasa itu berarti mereka termasuk menyukseskan rencana si iblis.


Mereka mungkin terkejut akan tindakan gereja dan Pastor O’Grady, namun Firman Tuhan tetaplah harus ditaati, karena sebenarnya, ajaran Kristen maupun Katolik itu mengajarkan kebaikan, apabila ada Pedofilia di antara para hamba Tuhan, itu bukan salah dari ajaran agama tersebut, melainkan kesalahan dari hamba Tuhan tersebut, dan sistem politik gereja.


Pendapat saya mengenai gereja:


Dalam film ini, tanggapan para pejabat gereja atas kasus ini sangatlah mengganggu dan merusak reputasi baik gereja. Sudah jelas tindakan Pastor O’Grady itu salah, namun mengapa pihak gereja tidak memberhentikan Pastor O’Grady?? Malah memindah-mindahkannya hingga memperpanjang daftar korbannya. Seharusnya gereja tidak memiliki sistem ‘Pastor dilarang menikah’, sebab hal itu akan membuat banyak pastor memiliki penyimpangan seksual.


Bagaimana Etika Kristen melihat Pendeta O’Grady dan perlakuan gereja terhadap keluarga korban?


Perlakuan Pastor O’Grady dan gereja sangatlah jahat dan tidak adil terhadap para korban dan keluarganya. Di saat mereka ingin menuntut, mereka selalu dihalang-halangi, di saat mereka datang langsung ke gereja untuk menuntut hak mereka, mereka justru hitolak, dan dijadikan musuh gereja secara tak resmi.


Dalam etika Kristen, tentu tindakan seperti itu bukanlah tindakan yang diharapkan oleh Yesus. Itu adalah dosa yang besar, apalagi memakai tameng agama untuk melindungi orang yang berdosa. Walau tidak dihukum yang berat, paling tidak pihak gereja menyikapi hal ini dengan adil, sehingga para korban dan keluarganya paling tidak dilegakan dan tidak dibuat pahit hati.


September 8, 2009

Woman Who Takes Chances: MARILYN MONROE

Orang yang Mengambil Kesempatan:


MARILYN MONROE



Marilyn Monroe merupakan legenda artis dunia, yanjg sedari kecil tidak pernah memiliki ayah, sebab ibunya tak tahu siapa ayah Marilyn. Marilyn Monroe memiliki nama asli Norma Jeane Mortenson. Ibunya bernama Gladys Pearl Monroe Baker. Saat Marilyn masih kecil, ibunya menjadi sakit jiwa, suka berteriak-teriak dan menangis. Akhirnya Ibu Marilyn mati gantung diri di rumah sakit jiwa. Setelah menjadi yatim-piatu, Marilyn menjadi anak angkat Albert dan Ida Bolender. Dalam buku autobiografinya, Marilyn yakin kalau Albert adalah seorang wanita.


Marilyn pertama menikah saat usianya 16 tahun, dengan seorang angkatan laut bernama James Dougherty. Marilyn berkata kalau ia tak pernah meraa menjadi seorang istri, ia malah merasa menjadi seorang anak. Ia suka bermain dengan anak-anak tetangga, lalu di sore hari, suaminya akan memanggil Marilyn untuk pulang.




Selagi suaminya berada dalam kapal angakatn laut selama perang dunia II, Monroe tinggal bersama ibu mertuanya. Di sana ia mulai bekerja di rumah produksi Radioplane Company milik Reginald Denny, seorang actor Hollywood. Seorang fotografer, David Conover mengambil fotonya untuk majalah YANK. Conover melihat bakat Monroe. Dialah orang pertama yang meyakini bakat luar biasa Monroe. Ia kemudian mendftarkan Monroe di agen model, The Blue Book. Namun ketika ia mendaftar, direktur agen model tersebut, Emmeline Snively berkata kepada Monroe bahwa lebih baik ia belajar menjadi sekretaris atau menikah saja. Perkataan ini muncul karena Snively menganggap kalau Marilyn adalah seseorang yang bodoh, yang hanya akan menyia-nyiakan waktunya jika masuk ke dunia entertainment.



Tapi Monroe sama sekali tidak putus asa! Dia justru membuat strategi untuk menarik perhatian public! Ia memotong rambut, meluruskan, dan mewarnainya dengan warna pirang. Dia mulai mengikuti kelas drama dan kelas menyanyi.Beberapa bulan kemudian, Monroe manjadi model paling sukses di agnesi Blue Book. Wajah Monroe muncul di berbagai majalah.


Sampai saat ini, Marilyn Monroe telah menjadi ikon Hollywood, lambang seks Amerika, dan sangat terkenal sampai di seluruh dunia. Hal ini bisa ia capai karena ia tidak menyerah dan berani mengambil kesempatan yang ada.